Pesan untukmu,,,

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Anak Semua Bangsa-Pramudya Ananta Toer)

Senin, Januari 28, 2013

Risalah dari Langit








“The Message” merupakan salah satu film yang menceritakan sejarah perkembangan Islam sejak awal kemunculannya di tanah Arab, di antara penduduk Mekkah. Film dimulai dengan penggambaran kondisi kota Mekkah saat-saat menjelang kenabian. Mekkah masih merupakan sebuah kota yang penuh dengan budaya jahiliyah. Berhala-berhala masih disembah dan tersebar mengelilingi dan di dalam Ka’bah.
Masa kenabian Rasul mengubah semuanya. Peringatan untuk menghapus budaya-budaya jahil diserukan untuk dihapuskan. Kaum Arab Mekkah tidak tinggal diam. Beberapa sahabat yang terang-terangan memproklamirkan diri sebagai muslim mendapat siksaan bertubi-tubi. Film ini memperlihatkan cara meninggalnya syahid-syahidah pertama dalam Islam, yakni Sumayyah dan Yasseer, orang tua Amr bin Yasseer.

Senin, Desember 17, 2012

Kagum dengan cara kerja-Mu, Tuhan...


Iya. Akhirnya memang aku harus mengakui bahwa hanya rencana-Mu saja yang akan berlaku, Tuhan. Sebaik-baik rencana yang sudah kubuat dan kutulis dalam setiap catatan tak ada guna jika Kau tak merencanakan yang sama denganku.

Selasa, Juli 03, 2012

Bergeraklah (karena aku suka dengan kata itu)


Tulisan ini mungkin sekali adalah bentuk kemarahan yang tidak bisa kusalurkan begitu saja hanya dengan berteriak atau mengumpat, atau bahkan hanya dengan menghancurkan sesuatu. Tulisan ini adalah bentuk kekecewaan yang menumpuk terus menerus dan lama-kelamaan menggunung. Kekecewaan yang menumpuk dalam hatiku sehingga tangan ini ingin sekali menumpahkannya. Kekecewaan terhadap almamaterku, terhadap kampus yang kukenal dan telah menempaku, yang telah memberiku gelar mahasiswa.

Selasa, April 24, 2012

Saat Perahu Kertas Siap Berlayar


Aku membaca novel ini pada Oktober tahun lalu. Sebenarnya, novel ini sudah terbit lebih lama dari itu. sekitar tahun 2009 atau 2010 mungkin karena aku sudah melihatnya di Gramedia. Tentu saja, saat aku melihatnya, aku langsung membalik dan melihat daftar harga di belakangnya. Maklumlah, keuangan mahasiswa harus menjadi catatan. Aku, yang kata teman-teman termasuk orang yang gila buku, pun harus sadar diri dan lebih memilih buku-buku lain yang lebih kubutuhkan waktu itu. lama sekali buku ini dipajang di Gramedia karena sampai sekarang pun mungkin masih bisa menemui buku ini dalam pajangan rak buku di sana. 
Aku, jujur saja, langsung tertarik dengan buku yang memiliki sampul warna hijau dengan gambar sama seperti judulnya, “perahu kertas”. Kugy dan Keenan, dua tokoh utama dalam novel ini. aku mengetahuinya saat membaca sinopsis singkat di cover bagian belakang. Dan karena membaca sinopsis inilah aku langsung tergelitik dan tersenyum sendiri, saat itu juga. Saat selesai membaca buku ini, keinginan untuk membuat catatan tentang buku ini langsung hadir seketika. Sama seperti yang terjadi padaku jika aku selesai membaca buku bagus dan menarik untukku. Tapi, keinginan itu baru bisa kuwujudkan sekarang. Entah apa yang terjadi pada beberapa bulan lalu yang membuatku terlambat menulis tentang buku ini? (hehe...)

Rabu, April 18, 2012

Gadis Pantai dan Langit Biru


Bibir pantai ini masih sama. seperti belasan tahun yang lalu. Saat awal-awal aku mulai menikmatinya untuk mengenangmu. Mengingat setiap kluster waktu yang pernah terlewat dengan senyuman. Masa-masa terindah dalam usiaku yang menginjak 23. Bukan masa-masa SMA seperti sebuah lagu yang sering didendangkan. Tapi adalah masa ketika usiaku belum meninggalkan usia dalam ukuran satuan. Sebelum melepaskan usia 11. Waktu aku masih asyik bermain denganmu. Di pantai ini. Di laut ini.
Kurebahkan punggungku. Telentang menghadap langitku yang biru. Ah, biru. Aku selalu menyukai warna itu. Karena warna laut juga biru. Air laut yang menyentuh bibir pantai ini juga menyentuh punggungku. Menyentuh setiap bagian tubuhku. Seandainya aku bisa berenang, mungkin aku akan masuk ke dalam lautmu. Menyelam dan mengintip sebentar duniamu. Tapi aku tidak bisa dan memilih telentang di sini, di bibir pantaimu. Kugenggam sedikit pasir basah yang mengelilingi tubuhku. Andai, aku bisa menggenggam mimpiku itu seperti ini. Andai aku bisa menggenggam tanganmu seperti ini. Tapi, aku selalu tak bisa. Aku memilih untuk melepasmu. Selalu. Kupejamkan mata untuk merasai hadirmu. Itulah aku pada beberapa tahun lalu.
***