Pesan untukmu,,,

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Anak Semua Bangsa-Pramudya Ananta Toer)

Selasa, Oktober 11, 2011

Kalau duduk sambil memeluk lutut seperti ini
Rasanya seperti berada di bibir pantai
Menatap ke depan melihat biru
Menatap ke atas melihat biru
Dan angin akan membelai mesra diriku...

Kalau duduk sambil diam seperti ini
Rasanya seperti kau ada di sampingku
Kau sedang menatapku yang seperti mengacuhkanmu
Padahal kulihat setiap gerikmu dari ekor mataku
Aku pun memperhatikanmu...

Selasa, Juli 19, 2011

Gemuruh Kawah Bromo: Mimpi yang Terwujud Sudah

Gunung Bromo dan Gunung Batok dari Matigen

Mimpi-mimpi itu. Ide-ide gila itu keluar lagi dari pikiranku dan keluar saja di ruang kecil bersekat itu. Rumah keduaku selama aku di kota perantauan ini. Keinginan untuk berpetualang masih begitu kental dalam pikiranku. Dan kalimat itu terlontar begitu saja. “Yuk, Backpackeran. Tujuan kita Bromo. Liburan semester ini, bulan Juli.”  Waktu itu beberapa penghuni sekre yang sedang asyik dengan pekerjaan mereka merespon dengan aneka rupa. Ada yang mengatakan kalau objek kejauhan, ada yang hanya tersenyum. Dan beberapa menjawab, “Ayuk, Mbak.” Dan mimpi itu, keinginan itu terealisasi pada 15-17 Juli kemarin.
Aku dengan 7 teman akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Bromo pada tanggal tersebut. Beberapa waktu sebelumnya aku mencari informasi lewat dunia maya. Itu karena semua yang akan berangkat belum memiliki pengalaman untuk pergi ke Bromo. Besarnya biaya, lokasi, akomodasi, dan situasi objek yang ingin kami tuju masih belum bisa kami prediksi. Karena itulah, informasi yang kami dapatkan pun masih cenderung separo-separo. Tapi semuanya tidak menyurutkan niat kami untuk melihat dan mengunjungi Bromo. Info pasti yang kami ketahui adalah bahwa Bromo sempat aktif dan menyemburkan debu vulkanisnya pada November tahun lalu. Sebagai ketua tim, aku berasumsi bahwa sekarang ini Bromo sudah berada pada kondisi yang lebih baik.
Aku, Desi, Mei, Septi, Tisna, Margi, Deni, dan Anjar. Kami berdelapan berangkat pada Jumat pagi. Kami naik kereta Sritanjung jurusan Banyuwangi. Di Stasiun Jebres kereta datang pukul 08.50. Selanjutnya, kami segera bertolak. Kereta meniupkan peluitnya dan asap hitam mengepul dari cerobong lokomotif di gerbong yang paling depan. Bismillah. Perjalanan pertama ini kami awali. Backpaker-an dengan modal nekat dan uang pas-pasan. Di dompetku sendiri hanya ada uang dua ratus ribu dengan beberapa uang ribuan saja. Berharap bahwa uang tersebut cukup untuk perjalananku kali ini.

Senin, Juli 11, 2011

Selamat Datang Mahasiswa Biasa di Kampus yang Biasa-Biasa Saja

Boulevard Kampus Hijau, Universitas
Sebelas Maret, Surakarta
Hari ini sama seperti pada empat tahun terakhir. Aku melihat rombongan pemuda memasuki kampus ini dengan beraneka mimpi yang mereka miliki. Dan pemandangan yang sama terlihat dari sisi yang lain. Lembaga dan organisasi kemahasiswaan di kampus ini mulai unjuk gigi untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Menunjukkan keunggulan yang dimiliki jika dibandingkan dengan organisasi yang lain. Misinya sama, menarik calon kader agar mereka masuk di masing-masing organisasi tersebut.
Menarik. Setiap organisasi membuat diri mereka menjadi begitu menarik untuk mahasiswa baru yang masih awam dengan dunia kampus. Di sinilah, organisasi kampus yang biasanya hilang dalam kancah pergerakan mahasiswa di kampus dapat terlihat menggeliat agar bisa mendapatkan ‘keturunan’ yang akan melanjutkan pergerakan mereka yang sudah kembang kempis. Tak apa! Yang demikian masih dihalalkan.

Senin, Mei 30, 2011

Taare Zameen Par: Every Child is Special

Aamir Khan dan Dharsheel Safary,,
senyum anak-anak begitu indah
Setiap anak memiliki keunikan. Mereka semua adalah sesuatu yang spesial. Kalian, kita hanya cukup melihat mereka lebih dekat. Lebih mengerti mereka, lebih memperhatikan mereka. Anak-anak adalah mutiara yang berkilauan dan menghiasi dunia ini. Mimpi-mimpi mereka adalah kekuatan yang akan membuat mereka tetap bersinar. Bakat yang mereka miliki adalah bekal untuk hidup mereka.
Demikian pesan pendek yang dimunculkan dalam sebuah film yang berjudul seperti judul tulisan ini, “Taare Zameen Par”. Film yang diproduksi oleh Aamir Khan, salah satu aktor gaek dalam film-film India, ini adalah salah satu film Bollywood yang membawa satu pencerahan dan hal baru bagi penikmatnya. Film ini bercerita tentang seorang anak, Ishaan, yang menderita disleksia. Sebuah penyakit yang bisa saja terjadi akibat keturunan. Penderita disleksia akan mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis karena mereka tidak memiliki kemampuan dasar untuk membedakan huruf yang satu dengan huruf yang lain yang cenderung mirip, misalnya ‘b’ dan ‘d’. Mereka yang menderita ini juga cenderung memasangkan huruf untuk membuat kata dalam urutan yang terbalik, misalnya, ‘sir’ ditulis ‘ris’.

Jumat, Mei 27, 2011

Merbabu, Perjuangan Menuju Puncakmu



Jumat-Sabtu kemarin (20-21 Mei 2011) aku kembali memulai perjalanan untuk mendaki puncak-puncak gunung itu. Kali ini Merbabu. Gunung yang sempat kudaki sebelumnya dengan teman-teman dari UNDIP pada 16-17 lalu. Waktu itu aku gagal mencapai puncaknya karena mengalami cedera di perjalanan sehingga terpaksa ‘ngecamp’ di bawah puncaknya. Karena itulah aku masih penasaran dan masih tertantang untuk menikmati angin di puncaknya. Melihat biru langit di atasnya. Alhamdulillah, kali ini aku dapat sampai di puncaknya, 3142 mdpl. Perjalanan kemarin dengan teman-teman di LPM Motivasi. Masih bersama mereka. Djoko, Sigit, Andi, Qodri, Miswan, Hanif, Jatmiko, Huda, Bambang, Imron, Tambak, Aish, Desi, dan Tyas.
            Sekitar pukul 16.30, teman-teman sudah berkumpul di sekretariat kami. Tetapi waktu itu aku masih duduk di kelas. Aku masih menjalani kuliah penelitian kuantitatif. Kalau mau jujur, pikiranku sebenarnya sudah tidak di kelas itu. Pikiranku sudah jauh melayang pada bagaimana perjalanan pendakian Merbabu kami nanti. Aku masih takut jika terjadi cedera lagi pada kakiku karena terhitung dari pendakian ke Merbabu yang terakhir, aku sudah jatuh sebanyak dua kali. Kecelakaan di Klaten dan terpeleset waktu pulang ke rumah.
            Tepat pukul 16.35 perkuliahan selesai dan aku segera menuju ke kos untuk berganti pakaian dan mengambil tas dan perlengkapan pendakianku. Teman-teman sudah menunggu di sana. Semuanya sudah berkumpul di sekre. Checking terakhir untuk barang-barang yang kami bawa pun dilakukan. Pukul 17. 48 semua selesai dan kami memulai perjalanan kami menuju basecamp di Desa Selo, Boyolali.
            Awalnya, perjalanan berjalan lancar saja sehingga mulai memasuki Boyolali kami kehilangan 2 pasang teman. Qodri, Miswan, Imron, dan Sigit tidak bersama kami. Saling menghubungi, akhirnya kami tahu kalau salah satu motor mengalami kerusakan hingga harus masuk bengkel dan menginap di sana. Qodri dan Miswan terpaksa harus naik bis untuk sampai di Selo. Tidak ada niat untuk kembali ke Solo dan tidak ikut serta dalam pendakian kali ini. Kami yang menunggu di Selo menunggu di depan masjid. Teman-teman juga melakukan sholat isya dan maghrib karena saa berangkat kami belum sempat sholat.

Kamis, Mei 05, 2011

Pengaruh Periode Aufklarung pada Tatanan Masyarakat Dunia

Pendahuluan
Aufklarung adalah suatu gerakan besar di Eropa pada abad ke-18 M yang memberi kedudukan dan kepercayaan luar biasa kepada akal budi manusia. Gerakan ini tumbuh sejalan dengan penemuan-penemuan besar di bidang ilmu pengetahuan alam di Italia, Jerman, Polandia, dan Inggris. Beberapa ilmuwan yang hadir dan meramaikan ilmu pengetahuan pada masa ini, antara lain Galileo, Kepler, Copernicus, dan Newton.
Pada masa aufklarung, falsafah rasionalisme menjamur di Perancis dan Belanda. Aliran ini menempatkan kedudukan akal begitu tinggi dalam mencapai kebenaran. Tokoh yang mencetuskan falsafah rasionalisme adalah Descartes dan Spinoza. Ungkapan terkenal yang keluar dari Descartes adalah Cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada). Pada tahap selanjutnya, berkembangnya ilmu-ilmu eksakta dan kedudukannya yang tinggi dalam masyarakat terpelajar juga disusul dengan berkembangnya paham-paham seperti empirisme di Inggris oleh John Locke, rasionalisme Kant, dan idealisme Hegel.
Periode aufklarung telah banyak membawa perubahan pola pikir manusia. Manusia mulai menggunakan akalnya untuk meneliti secara kritis segala yang ada dalam kehidupannya termasuk dalam kehidupan bernegara dengan segala aspek yang ada di dalamnya. Masa inilah yang kemudian membuat para tokoh yang kemudian terkenal sebagai pelopor sebuah aliran untuk mulai menyuarakan pendapatnya. Pendapat ini dapat berupa celaan dan kritikan tajam terhadap kinerja pemerintah yang otoriter dan ditator terhadap rakyatnya.
Selain itu, perjumpaan akal budi dengan pengalaman manusia (empiri) kemudian menghasilkan science yang maju. Menurut pandangan Aufklarung dengan penyebarluasan ilmu pengetahuan maka harkat dan martabat manusia akan semakin meningkat. Bagi mereka science merupakan sumber kebahagiaan pula. Lahirlah scientisme, yakni sebuah paham yang memandang science sebagai satu hal yang segalanya dalam mencapai kebenaran, kebaikan, dan keindahan.
Makalah pendek ini akan membahas tentang periode aufklarung, terutama di Prancis dan beberapa pengaruhnya dalam kehidupan manusia selanjutnya.

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PENGGALIAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL BUDAYA JAWA (Tembang Macapat sebagai Alternatif Bahan Ajar Penanaman Karakter)

ABSTRAK
Pendidikan karakter marak menjadi perbincangan di Indonesia pada beberapa tahun terakhir. Hal tersebut berkaitan dengan menurunnya moral dan nilai yang dialami oleh peserta didik dan lulusan sebagai output pendidikan Indonesia. Pada prinsipnya pendidikan karakter di Indonesia sudah dilakukan sejak zaman Ki Hajar Dewantara, tetapi kemudian tergerus dengan adanya nilai-nilai modern yang masuk dengan begitu derasnya, termasuk dalam bidang pendidikan di Indonesia. Karena itulah, pendidikan karakter sekarang ini masih dipandang sebagai wacana dan belum menjadi bagian yang terintegrasi dalam pendidikan formal, padahal pendidikan di Indonesia sudah memiliki mata pelajaran pancasila, kewarganegaraan, budi pekerti, dan sejenisnya.
Makalah ini membahas tentang pentingnya pendidikan karakter di Indonesia, terutama dalam menghadapi ide dan arus globalisasi. Indonesia membutuhkan lulusan-lulusan pendidikan yang tidak hanya kompeten namun juga berkarakter agar bangsa Indonesia tetap menunjukkan karakternya dalam kancah persaingan internasional. Salah satu yang dapat dilakukan dalam pendidikan karakter adalah penggalian nilai-nilai kearifan lokal. Salah satunya melalui tembang-tembang macapat yang telah terkenal memiliki pesan dan nilai kehidupan yang agung. Pengintegrasian nilai-nilai di dalamnya dalam pendidikan di Indonesia akan membuat anak didik memiliki karakter sekaligus menunjukkan kepribadian bangsa. Hal tersebut akan membuat keluaran pendidikan Indonesia memiliki kompetensi yang cukup, bukan hanya dalam kecerdasan kognitif, melainkan juga kecerdasan emosi. Guru sebagai pendidik dan pengajar memiliki peran penting dalam pelaksanaan pendidikan karakter tersebut.

Kata kunci: pendidikan karakter, tembang macapat, globalisasi.

Jumat, Maret 25, 2011

Analisis Kritis Novel Perempuan Berkalung Sorban: Sebuah Pendekatan Feminisme Sastra


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karya sastra sebagai salah satu produk sebuah kebudayaan dapat dikatakan sebagai cerminan dari masyarakat tempat karya sastra itu lahir. Sebuah penelitian yang membicarakan tentang maju tidaknya atau tinggi rendahnya sebuah kebudayaan tidak hanya ditilik dari karya-karya atau tulisan ilmiah yang dihasilkannya. Tetapi, penilaian tentang hal tersebut dapat juga dilakukan dengan melihat karya-karya sastra yang dihasilkan oleh masyarakat yang bersangkutan.
Kita tidak perlu harus terjun masuk ke dalam masyarakat untuk mengetahui kebudayaan suatu masyarakat. Penelitian dapat dilakukan dengan cara menggali karya-karya fiksi, seperti buku-buku sastra atau novel. Hal inilah yang membuat perkembangan sastra tidak bisa dipisahkan dengan pola kehidupan dan pola pikir masyarakatnya. Cara masyarakat untuk hidup dan bertingkah laku dalam kehidupan sosial mereka bisa sangat mempengaruhi seorang penulis dalam merefleksikan pemikirannya tentang suatu masalah yang kemudian bisa diwujudkan dalam suatu kreasi yang kemudian layak disebut sebagai suatu karya sastra. Dan hal yang serupa juga terjadi pada perkembangan sastra di Indonesia.
Dalam perkembangannya, Abidah Al Khalieqy merupakan satu nama yang menghiasi jejak sastra di tanah air. Lewat karyanya, Abidah melukis kisah wanita dengan aneka perlawanannya terhadap budaya patriarki yang menurutnya masih terasa kental di negeri ini. Karya perdana yang dibukukan pada 2001 mengambil judul Perempuan Berkalung Sorban. Novel ini dinilai sebagai bentuk perjuangan yang bisa dilakukan oleh seorang penulis wanita untuk meningkatkan kedudukan kaumnya.
Novel Perempuan Berkalung Sorban adalah sebuah novel yang berbingkai feminisme. Perspektif feminisme lebih mengarah pada karya sastra yang ditulis perempuan sekaligus menampilkan tokoh perempuan dengan berbagai masalahnya. Perspektif dimaksud tidak semata-mata memandang novel dari kacamata estetika, tetapi juga memfokuskan kajian pada makna dan hubungannya dengan realitas sosial dan budaya.
Novel Perempuan Berkalung Sorban memiliki kandungan ekspresi dan konsistensi fiksional untuk mengutuhkan kepribadian, kecerdasan, dan keyakinan tokoh perempuan di dalamnya. Pengutuhan itu bukan saja terbaca dari latar sosial tokohnya, Annisa, tetapi juga emansipasi pemikiran dan keberaniannya untuk melawan dominasi dan diskriminasi tokoh-tokoh antagonis yang bersifat patriarkis. Penggambaran posisi dan sikap tokoh perempuan tersebut juga mencerminkan adanya upaya untuk menanggapi dan mencari solusi terhadap masalah gender yang ditimbulkan oleh ketidakadilan sosial dan budaya di sekitar tokoh itu berada.
Inilah yang kemudian melatarbelakangi peneliti untuk mengkaji novel Perempuan Berkalung Surban dengan judul Analisis Kritis Novel Perempuan Berkalung Sorban: Sebuah Pendekatan Feminisme Sastra.

Wanita ini dan laki-laki itu

Suatu kali bercerita seorang laki-laki tentang wanita ini,
Dia, si wanita adalah gadis yang menjadi senjanya ….

“Dialah wanita itu,,
Yang mencintaiku dengan begitu sederhana,
Dia hanya tersenyum melihat nakalku,
Dia hanya akan nyengir sambil memegang dadanya,
Tepatnya di arah jantungnya, jika ia mengingat salahku …

Dia wanita itu,,
Yang selalu melakukan hal sama
Sehingga aku bisa cepat menghapal tingkahnya,,
Tapi aku selalu sulit menebaknya,,
Ketika kupikir seharusnya ia marah karena semua wanita biasanya marah,
Dia hanya tersenyum tenang dengan mata teduh yang ia tujukan padaku…
Terkadang sambil menggelengkan kepala pelan ke arahku yang telah berbuat salah …

Dia wanita itu,
Yang terkadang ingin sekali kulihat ia marah karena semua ulahku,
Tapi aku juga merasa takut jika ia benar marah padaku …
Apa jadinya jika wanita teduh itu benar begitu?

Kamis, Maret 24, 2011

Hidup,,, Adakah sebuah kebetulan?

Apakah kamu mengira bahwa hidup ini adalah sebuah kebetulan? Pertemuanku denganmu, pertemuanmu dengan mereka. Pertemuanku dengannya dan pertemuan antarkita yang saling bersinggungan? Kalau benar hidup ini adalah sebuah kebetulan. Bukankah ini adalah sebuah kebetulan yang indah dan begitu sempurna?
Dari pertemuanku denganmu, aku dapat mengenali dirimu sekaligus semakin mengerti diriku. Dari pertemuanku dengan dia dan mereka, aku mendapatkan pengalaman hidup yang luar biasa. Banyak kisah yang kemudian tercipta. Rangkaiannya membuat alur tidak lagi datar dan biasa-biasa saja. Ada masalah yang kemudian menuju klimaksnya dan diakhiri dengan penyelesaian yang tepat meski terkadang tidak sempurna dalam pandangan beberapa manusia. Klimaks dengan resolusi yang ditutup dengan akhir sedih atau gembira. Sad or happy ending.

Selasa, Maret 15, 2011

kegelisahanku yang masih saja datang

jenuh aku dengan diriku sendiri,,
pertanyaan tentang diriku,,jawaban untuk diriku.
lalu kemana dia dan mereka,,
apa sudah tidak ada ruang bagiku untuk memikirkan mereka,
seperti berada pada terali besi yang memasungku dalam keadaan tak bernyawa,,

ah,,aku hilang bentuk...
remuk,,
idealisme dan mimpi-mimpi besar itu masih kugadang dengan sangat baik,,
tapi seperti terbentur pada realitas yang ada,,

serpihan masih kukumpulkan dan berharap mimpi-mimpi besar itu mampu kuwujudkan,,
ini tentang kegelisahanku yang masih harus ketemukan jawaban .........

Jumat, Februari 18, 2011

Gedung Baru Itu lagi,, (...dan kali ini tentang nasib gedung lama...)

Sore ini aku ke kampus lagi. Belum banyak yang berubah. Sama seperti kebiasaanku, selalu saja ke kampus jika terlalu banyak pikiran tentang diri sendiri yang mengganggu dan meminta jawaban. Tidak pernah berharap bahwa dengan pergi ke kampus aku akan mendapatkan solusi atas masalah yang tengah dihadapi. Tetapi, justru sebaliknya aku ingin kembali dan melihat tempatku berkembang dulu. Mungkin dengan melihat jejak yang sedikit kubuat akan membuatku kuat. Bahwa aku pernah mengalami masa-masa tidak enak selama di kampus. Kampus menjadi satu tempat yang kupilih untuk mendapatkan pencerahan tentang hidup. Tentang hal-hal yang sering aku tanyakan untuk diriku sendiri, tentang jawaban yang kucari sendiri.
Sama seperti sore ini, menuju satu ruang kecil bersekat di kampusku. Ruang yang telah kutempati selama empat tahun terakhir saat ada di kampus. Satu ruang yang ada dalam bangunan kokoh bernama Gedung Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) FKIP UNS. Ruang kecil bersekat itu adalah LPM Motivasi. Aku selalu menyukainya, menganggapnya sebagai rumah pertamaku di kota perantauan ini. Terlalu berlebihan mungkin, tapi itu yang kurasakan selama tinggal di dalamnya. Ada keluarga, ada perdebatan, ada diskusi, ada tangis, ada gembira di sana. Ada bangga karena telah menjadi salah satu bagian darinya.
Dan sore ini berita yang kudengar dari adik-adik yang ada di sana sangat mengejutkanku. Bahwa gedung KBM yang telah menampug begitu banyak cerita perjuangan mahasiswa akan berubah fungsi menjadi kantin kampus. Pelaksanaannya akan melalui tahap tender dan sebagainya dan sebagainya. Pimpinan fakultas berdalih bahwa semua itu untuk kepentingan mahasiswa. Pun mahasiswalah yang akan mengurusi manajemen dan tetek bengeknya. (Perut mahasiswa mana yang akan dijadikan alasan untuk dipenuhi dengan makanan sedangkan kantin di kampus pun sudah tersebar di titik-titik tertentu? Itu pertanyaan pertama dariku). Apakah mahasiswa masih kurang sibuk sehingga harus mengurusi manajemen dan pengelolaan kantin kampus??? Itu pertanyaan selanjutnya yang keluar nakal dari pikiranku.

Jumat, Januari 14, 2011

Untuk Lelaki Kelanaku ......


kau adalah jingga,,
maka ketika kau tiada
tiada warna lagi bagi senja
....

semburatmu adalah kerinduan pada warna langit
yang biru,,
padanya aku memendam rasa ngelangutku yang menderu
....

bibir pantai ini masih saja sama,
dan aku masih menunggu seperti biasa,,

Sabtu, Januari 08, 2011

Jatuh Cinta, Lagi Kali ini ……….

Ini hanya sekadar catatan iseng saja ketika duduk di depan meja kerja dan otak sedang mampet untuk membuat naskah buku yang sedang kubuat. Tiba-tiba tangan ini ingin membuat sebuah tulisan pendek.
Beberapa minggu yang lalu, perasaan hatiku sedang tidak enak. Banyak pertanyaan yang membuatku gelisah. Pertanyaan yang begitu banyak tiba-tiba muncul dan membuat batinku berdebat sendiri. Tentang aku yang selama ini, tentang teman-temanku, tentang langkah yang telah kuambil dalam beberapa tahun terakhir, dan tentang yang lain-lain yang tiba-tiba menjadi pertanyaan dan bertarung mencari jawaban dalam pikiranku. Aku tidak tahu banyak, kenapa pertanyaan yang sedemikian banyak itu bisa muncul. Kutebak, mungkin karena beberapa buku yang selesai kubaca. Belakangan aku membaca beberapa buku yang ditulis orang-orang yang istimewa di zamannya. Apa karena itu? Atau karena aku tidak banyak melakukan hal yang lain selain bekerja dan beristirahat sehingga pikiranku sendirilah yang ingin mengajakku berdiskusi barang sejenak. Tapi, malah pikiranku itulah yang akhirnya membuatku menjadi “kerja tak enak, istirahat tak nyenyak”. Entahlah, sampai saat ini aku masih belum mendapat jawaban apa sebab kemunculan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku lumayan aneh itu…..

Rabu, Januari 05, 2011

Dari Catatan Harian Ahmad Wahib


Setelah membaca buku kecil yang memiliki cover hijau tua dan berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam” itu ada beberapa kutipan yang kutemukan dan bisa teman-teman baca. Mungkin bisa dijadikan satu penyemangat untuk kita yang masih muda. Menyelami pikiran seorang anak muda yang ‘gelisah di zamannya. Atau kalau tidak, catatan pendek yang berisi beberapa kutipan ini bisa dijadikan sekadar bahan bacaan untuk teman-teman.

Sebagai catatan, Ahmad Wahib adalah salah satu mahasiswa Universitas Gadjah Mada (meski belum tercatat sebagai sarjana di sana) yang bergabung dalam satu pergerakan mahasiswa yang biasa kita sebut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sama seperti Soe Hok Gie, Wahib mati muda karena kecelakaan yang dialaminya. Dia meninggal karena tertabrak sepeda motor ketika pulang dari kantor majalah TEMPO, tempat ia bekerja sebagai calon wartawan. Wahib adalah pemuda yang gelisah dan memiliki banyak pertanyaan tentang Islam, tentang Himpunan yang dicintainya, tentang politik dan budaya, tentang mahasiswa dan kaum intelektual yang berada di menara gading. Catatan harian yang diterbitkannya menimbulkan kontroversi karena pada beberapa bagian, pemikirannya dianggap terlalu radikal karena ia sempat mempertanyakan Allah yang menjadi Tuhannya dan menjadikan Marx pantas masuk surga karena pemikirannya. Ada alasan-alasan yang menjadikan Wahib bertanya-tanya. Tidak perlu berpanjang lebar, karena ini hanya sekilas tentang Wahib. Berikut adalah beberapa kutipan yang kutemukan di dalam buku kecil yang baru selesai setelah beberapa hari ini kubaca:

“Sebagian orang meminta agar saya berpikir dalam batas-batas Tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi. Paakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? Saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan “adanya”. Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. Sesungguhnya orang yang mengakui bertuhan tetapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi, dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan yang tersembunyi.” (hal. 23)

“Tuhan, aku menghadap padamu bukan hanya di saat aku cinta padamu, tapi juga di saat-saat aku tidak cinta dan tidak mengerti tentang dirimu, di saat-saat aku seolah-olah memberontak terhadap kekuasaanmu. Dengan demikian, Rabbi, aku mengharap cintaku padamu akan pulih kembali. Aku tidak bisa menunggu cinta untuk sebuah sholat.” (hal. 27)

“Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan-Mu dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak yang Engkau sendiri telah berikan padaku dengan kemampuan-kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, murkakah Kau bila otak dengan kemampuan-kemampuan mengenalnya yang engkau berikan itu menggunakan sepenuh-penuhnya kemampuan itu?” (hal. 31)

Saya tidak mau jadi orang munafik, sok suci dan semacam itu. Percobaan menyembunyikan pengaruh bawah sadar yang mungkin ada? Adalah kepura-puraan. Dan saya tidak mau berpura-pura, apalagi terhadap sesama manusia seperti Ahmad dan lain-lainnya. Masalah hukum Tuhan saja saya tidak mau berpura-pura, apalagi terhadap masalah Himpunan Mahasiswa Islam.” (hal. 31)

“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan Budha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut Muslim. Aku ingin orang memandang dan menilaikusebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.” (hal. 46)

“Persamaan tidak akan menggugah apa-apa untuk pengembangan diri. Tapi pertentangan justru mempunyai saya rangsang yang tinggi untuk kematangan intelektual dan emosional. Karena itu, mumpung masih muda, kejar dan carilah lawanmu, berdebatlah. Dengan demikian, pribadi kita senantiasa kaan dihadapkan pada kesulitan-kesulitan intelektual dan justru karena kesulitan itulah kita dipaksa untuk maju, dipacu untuk maju. Semua ini jadi semacam peperangan, pemberontakan. Walaupun begitu, harus ada saat-saat di mana kita sempat berteduh dan beristirahat dan merenung atau berpikir sendiri ataupun bersama-sama untuk mengumpulkan dan mengadakan konsolidasi demi menghadapi pertempuran baru. Saat-saat muda yang penuh dengan idealisme dan vitalitas ini harus dipacu secepat-cepatnya untuk memperbanyak modal diri sebelum mengambil decision yang mantap pada umur yang lebih dewasa nanti.” (hal. 52-53)

“Apakah Muhammadiyah berhasil dalam usahanya memberantas apa yang disebut “bid’ah dan khurafat”? Saya kira dalam bidang “bid’ah dan khurafat” yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran NU, Muhammadiyah dapat dikatakan sudah berhasil. Tapi dalam menghadapi “bid’ah dan khurafat” yang “ditimbulkan” oleh kebudayaan Indonesia sendiri dan telah melembaga dalam adat istiadat rakyat, Muhammadiyah mengalami kesukaran. Muhammadiyah datang memberantas tanpa supremasi kebudayaan dan menyerang tanpa membawa kebudayaan baru yang “bersih”. Muhammadiyah cenderung untuk anti kebudayaan!” (hal. 64)

“Apakah ciri-ciri apologia?pertama, kalau merasa diserang, yang bersangkutan akan menangkis atau membela diri. Kedua, kalau merasa akan diserang yang bersangkutan akan bikin “excuse” lebih dulu. Ketiga, ada kecenderungan membangkit-bangkitkan kembali hal-hal yang lama. Keempat, tidak jarang mengagung-agungkan kejayaan masa lampau. Dan kelima, normatif.” (hal. 68)

“Yang penting bagi kita ialah berbuat dan bertanggung jawab. Kebenaran adalah sesuatu yang kita usahakan mendapati dan kesalahan adalah sesuatu yang kita usahakan menghindari. Dalam sikap demikian, maka kemungkinan melakukan kebenaran atau kesalahan adalah hirarkis di bawah pentingnya berbuat dan bertanggung jawab. Lebih baik berbuat, melakukan kesalahan dan bertanggung jawab daripada takut bertanggung jawab sebab selalu ragu tentang kebenaran tindak dan karenanya tak pernah berbuat apa-apa.” (hal. 117)

“Islam jangan dipandang sebagai bangunan emas yang megah yang bisa dipuja di mana kita mungkin hidup di dalamnya dengan berbuat atau tidak berbuat, tapi Islam bisa ada atau tidak ada tergantung pada ada atau tidak adanya kekerasan kerja dalam diri kita masing-masing untuk mengamalkan ajaran-ajaran spiritual Islam.” (hal. 120-121)

“Hari ini adalah hari Natal. Kepada saudara-saudaraku yang beragama Kristen ingin kusampaikan rasa ikut berbahagia dan simpatiku pada kesungguhan mereka menerima pesan Natal. Banyak kwan-kawan di kalangan Kristen dan Katolik yang tidak sempat kukirimi surat ucapan selamat. Surat itu bukan formalitas. Dia punya arti persahabatan dan pembinaan saling menghargai.” (hal. 192)

“Saya tidak mengerti mengapa orang-orang bersatu dalam organisasi karena persamaan daerah. Ada mahasiswa Kalimantan, Keluarga Madura, dan lain sebagainya. Ini mental primitif. Tapi saya yakin, suatu waktu ini akan hilang.” (hal. 197)

“Dengan umat Islam sendiri, kaum terpelajar muslim kurang komunikasi dan pikiran-pikiran mereka kurang dimengerti. Akibatnya, tetaplah keadaan umat Islam dalam keadaan tak terbimbing, tetapi menjadi klise masa lalu dan makin reaktif. Tak jarang terjadi, kaum terpelajar muslim lantas terbawa oleh “semangat” massa atau pendapat kaum awam. Golongan lain dengan gencar dikritik, tapi golongan sendiri tak diutik-utik.” (hal. 206)

“Saya pikir dalam keluarga harus tercipta iklim kasih sayang. Keluarga yang aman damai mendatangkan tabiat yang tenang pula bagi si anak. Rumah harus menjadi tempat di aman persatuan antaranggota keluarga dipelihara baik.” (hal. 218)

“Dalam keadaan sekarang yang dinamakan pejuang-pejuang idealis Islam barulah pejuang yang bersemangat tinggi, walaupun mereka tidak tahu apa yang mereka maui dengan semangat yang bernyala-nyala itu. Kebanyakan “pejuang-pejuang idealis Islam” menjadi terlalu emosional, kurang rasional. Mereka terpukau dengan simbol-simbol dan semacam itu.” (hal. 268)

“Saya memang mengeritik HMI sebagai orang yang terlibat dalam HMI. Seharusnya orang luar HMI akan lebih meneropong HMI, tapi sebagai orang dalam pun tak ada salahnya. Saya tulis semua ini karena cinta saya dan harapan saya terhadap himpunan ini.” (hal. 277)

“Terlalu banyak persentase waktu untuk membaca itu tidak baik. Kita hanya sekedar akan menjadi reservoir ilmu. Pemikiran otentik yang kita adakan maksimal hanya dalam kerangka kemungkinan-kemungkinan yang diberikan dalam suatu buku dan perbandingannya dengan buku sarjana-sarjana lain. Banyak membaca harus diimbangi dengan banyak merenung dan banyak observasi langsung. Harus ada keseimbangan antara membaca, merenung dan mengamati. Dengan demikianlah kita akan mampu membentuk pendapat sendiri dan tidak sekedar mengikut pendapat orang atau memilih salah satu di antara pendapat yang berbeda-beda.” (hal. 280)

“Bagaimana dunia mahasiswa Indonesia? Saya melihat telah terjadi krisis identitas, sehingga mereka tidak mampu menampilkan kepribadian tersendiri yang tangguh di tengah-tengah kemelut tanah airnya. Jiwa merdeka jauh dari mereka sehingga banyak organisasi-organisasi mahasiswa dan personil-personil mahasiswa sejak awalnya telah terbelit dalam jaringan partai politik, militer atau kekuasaan lain yang sedang memerintah. Kehidupan mahasiswa kemudian menjadi obyek atau daerah operasi yang tidak sehat dari kekuatan-kekuatan di luarnya dengan memakai tangan-tangan yang ada di dalam. “ (hal. 301)

“Aku ingin Al-Qur’an itu membentuk pola berpikirku. Aku tak tahu apakah selama ini aku sudah Islam atau belum. Tapi bagaimana mengintegrasikan Al-Qur’an itu dalam kepribadianku? Bagaimana? Tuhan, aku rindu akan kebenaranMu.” (hal. 320)

“Cinta itu kudus dan syahdu. Penderitaan dan kesulitan yang dia alami kurasakan sebagai penderitaan dan kesulitanku sendiri. Sayang, sukar sekali aku bisa bertemu dia. Kami tinggal pada kota yang lain, dan hanyalah tinta yang bisa jadi juru bicara. Baru dua hari kami berpisah, tapi aduh! Aku tidak tahan menahan kerinduan.” (hal. 324)

“Aku sudah terlalu lama di Yogya. Dia sudah terlalu kering buat suatu inspirasi. Bagiku kota ini tidak inspiratif lagi. Kapankah keinginanku untuk menjelajah dunia ini bisa terlaksana? Aku benci homogenitas dan suasana monoton. Aku ingin mencari lingkungan baru yang masih kaya akan inspirasi. Sebaiknya memang: tinggalkan Yogya!” (hal. 325)

“Aku sangat kuatir akan kemampuanku sendiri dalam menjaga keseimbangan batin di tengah-tengah kekecewaan terhadap nasibku selama ini, terhadap lingkunganku, terhadap teman-teman lamaku dan lain-lain. Mudah-mudahan aku tidak akan terdesak untuk mengambil langkah-langkah artifisial karena kecewa.” (hal. 341)


Catatan:
Beberapa tulisan dari kutipan ditulis tidak baku karena penulisannya merujuk pada buku yang asli. Semoga catatan pendek ini bermanfaat. Amien.

Minggu, Januari 02, 2011

untuk sahabat kecilku.....

Selalu saja wajahnya yang nampak ketika sepi benar-benar menjadi temanku seperti saat ini. Selalu saja senyum polosnya, dengan cengiran khas ala anak desa. Wajah tanpa dosa yang selalu ia tawarkan meski baru saja ia melakukan kesalahan. Ya, begitulah cara yang dilakukannya untuk meminta maaf. Tanpa mengucapkan maaf, hanya nyengir saja…
Selalu saja wajahnya yang muncul ketika tidak ada teman yang menemaniku. Sama seperti saat ini. Dan selalu saja aku rindu dengan tawa dan suara khasnya yang membuatku ingin sekali menjitak kepalanya. Ya, harus kuakui bahwa aku juga selalu usil padanya. Aku rindu padanya….
Dia teman kecilku. Sahabat yang kukenal sejak aku mulai mengenal kata itu. Terkadang aku berpikir, mengapa harus menjadi dewasa. Mengapa kita tidak menjadi anak kecil saja selamanya. Terperangkap dalam tubuh dan masa itu. Kemudian kami akan tertawa lepas dan bermain tanpa mengenal waktu. Tanpa menjadi dewasa yang membuat kami masing-masing harus memikirkan hidup dengan permasalahannya. Perkara remeh temeh sampai yang membuat pusing kepala karena nalar dan logika yang harus keras berupaya.
Sering aku membuat pengandaian seandainya waktu berhenti saja pada masa kanak-kanak, tentu aku dapat menikmati hujan lagi bersama dia dan teman-teman kecilku lainnya tanpa memikirkan orang lain yang memandang kami curiga. Aku dan dia akan tetap bisa bermain bersama tanpa memikirkan bahwa kami berbeda. Bahwa aku perempuan dan dia pria. Ya, terkadang ini yang membuatku bertanya. Mengapa aku dan dia harus berbeda hingga norma yang ada melarang kami untuk selalu bersama. (Kuakui bahwa aku memang tidak punya banyak teman wanita. Waktu kecil dulu aku lebih suka berteman dengan anak laki-laki karena mereka bisa bebas bergerak ke mana saja. Dan sekarang, inilah konsekuensinya, bahwa aku tidak banyak punya teman wanita di tanah kelahiranku…. )
Sekarang masa itu sudah terlewat sudah. Masing-masing kami telah dewasa. Aku dan dia pada usia yang bergerak pasti menuju tua. Dan sekarang ini karena telah sadar dengan usia yang menjadi dewasa aku tidak lagi bisa bebas dengannya. Bercerita tentang laut dan senja. Sekarang ini bahkan sering kutahan keinginan meski sangat ingin bercerita dengannya….
Dia sahabat kecilku. Dan akan selamanya menjadi sahabatku. yang akan selalu menemaniku meski hanya senyumnya saja yang teringat ketika tertutup mataku …..


*tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba saja ingin membuat sebuah coretan tentangmu…
Aku rindu senyum nakalmu…..