Pesan untukmu,,,

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Anak Semua Bangsa-Pramudya Ananta Toer)

Jumat, Mei 27, 2011

Merbabu, Perjuangan Menuju Puncakmu



Jumat-Sabtu kemarin (20-21 Mei 2011) aku kembali memulai perjalanan untuk mendaki puncak-puncak gunung itu. Kali ini Merbabu. Gunung yang sempat kudaki sebelumnya dengan teman-teman dari UNDIP pada 16-17 lalu. Waktu itu aku gagal mencapai puncaknya karena mengalami cedera di perjalanan sehingga terpaksa ‘ngecamp’ di bawah puncaknya. Karena itulah aku masih penasaran dan masih tertantang untuk menikmati angin di puncaknya. Melihat biru langit di atasnya. Alhamdulillah, kali ini aku dapat sampai di puncaknya, 3142 mdpl. Perjalanan kemarin dengan teman-teman di LPM Motivasi. Masih bersama mereka. Djoko, Sigit, Andi, Qodri, Miswan, Hanif, Jatmiko, Huda, Bambang, Imron, Tambak, Aish, Desi, dan Tyas.
            Sekitar pukul 16.30, teman-teman sudah berkumpul di sekretariat kami. Tetapi waktu itu aku masih duduk di kelas. Aku masih menjalani kuliah penelitian kuantitatif. Kalau mau jujur, pikiranku sebenarnya sudah tidak di kelas itu. Pikiranku sudah jauh melayang pada bagaimana perjalanan pendakian Merbabu kami nanti. Aku masih takut jika terjadi cedera lagi pada kakiku karena terhitung dari pendakian ke Merbabu yang terakhir, aku sudah jatuh sebanyak dua kali. Kecelakaan di Klaten dan terpeleset waktu pulang ke rumah.
            Tepat pukul 16.35 perkuliahan selesai dan aku segera menuju ke kos untuk berganti pakaian dan mengambil tas dan perlengkapan pendakianku. Teman-teman sudah menunggu di sana. Semuanya sudah berkumpul di sekre. Checking terakhir untuk barang-barang yang kami bawa pun dilakukan. Pukul 17. 48 semua selesai dan kami memulai perjalanan kami menuju basecamp di Desa Selo, Boyolali.
            Awalnya, perjalanan berjalan lancar saja sehingga mulai memasuki Boyolali kami kehilangan 2 pasang teman. Qodri, Miswan, Imron, dan Sigit tidak bersama kami. Saling menghubungi, akhirnya kami tahu kalau salah satu motor mengalami kerusakan hingga harus masuk bengkel dan menginap di sana. Qodri dan Miswan terpaksa harus naik bis untuk sampai di Selo. Tidak ada niat untuk kembali ke Solo dan tidak ikut serta dalam pendakian kali ini. Kami yang menunggu di Selo menunggu di depan masjid. Teman-teman juga melakukan sholat isya dan maghrib karena saa berangkat kami belum sempat sholat.
            Hampir pukul delapan, rombongan yang terpisah dapat bergabung kembali dengan kami. Maka, strategi pasangan motor untuk dapat sampai ke basecamp pun diubah. Aku, Desi, dan Djoko berada pada satu motor. Ini agar teman-teman yang motornya mengalami kerusakan tetap dapat sampai di basecamp. Maklum, tidak ada angkutan yang dapat mengantar kami sampai ke basecamp sedangkan jarak tempat kami berhenti sampai basecamp masih sekitar satu jam perjalanan motor.
            Perjalanan menuju basecamp dimulai. Sebenarnya, kami sedikit mengambil risiko karena satu motor digunakan untuk tiga orang. Medan jalan menuju ke basecamp bukanlah medan yang landai dan rata. Di perjalanan ini pun, motor beberapa teman sempat mengalami mogok di jalan. Mungkin cuaca dingin yang membuat mesin motor sedikit mogok atau beban yang dibawa terlalu berat. Ini adalah salah satu tantangan untuk kami. Sampai di pasar Selo, kami mampir sebentar di salah satu warung di sana untuk makan malam. Selanjutnya, pukul 21.30 tepat kami sampai di basecamp.
           

Setelah istirahat sebentar dan mengurus administrasi di basecamp, kami memulai pendakian pada 22.20. sebelumnya, kami ber-15 membentuk lingkaran terlebih dahulu dan berdoa agar pendakian kami berjalan dengan lancar. Bulan sudah tidak lagi purnama, tapi masih cukup terang untuk menemani perjalanan kami. Bintang pun juga menjadi penghias langit malam yang membuat suasana semakin cerah.
Medan dari basecamp menuju pos 1 lumayan sebagai pemanasan kaki kami. Banyak jalan landai sehingga belum terlalu banyak hambatan. Tetapi, beberapa kali kami memang membutuhkan istirahat. Kami ber-15 sebagai satu tim tidak dapat meninggalkan yang lain. Perjalanan kali ini adalah pengalaman pertama mendaki gunung bagi  7 orang anggota tim kami. Kami sampai di pos 1 tepat pada 00.00. istirahat sebentar, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2.
Di sinilah kami ternyata tidak memilih jalur yang benar. Dalam gelapnya malam, teryata kami salah memilih jalur dan malah memilih jalur alternatif. Perjalanan menjadi lebih lama meski jalur yang dipilih menjadi lebih landai kata beberapa teman yang pernah mendaki Merbabu lewat jalur ini. Jalur yang kami lewati banyak ditumbuhi ilalang yang tingginya lebih dari tinggi tubuhku. Kami tidak menemui pos 2 karena pos 2 memang tidak berada di jalur alternatif yang kami lalui. Pukul 01.57 kami memutuskan untuk ngecamp  di bawah sabana 1.
Beberapa teman membuat makanan dan minuman hangat, tapi tidak buatku. Aku langsung terlelap dengan alas backdrop yang kami bawa dari sekre yang kutumpuk dengan mantol. Dengan memakai jumper dan mengganti kaos kaki yang basah aku kemudian berusaha untuk memejamkan mata. Tidur. Beberapa teman sempat heran dengan aku yang langsung dapat tidur dengan kondisi seperti itu. Angin lumayan kencang waktu itu. Syukur karena tidak hujan dan cuaca sangat cerah. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana jika turun hujan atau angin lebih kencang dari saat itu. Kami tidak membawa tenda atau dome dan semacamnya. Pun hanya beberapa saja yang memiliki dan membawa sleeping bag. Aku termasuk yang tidak memiliki dan membawa peralatan tersebut. Gigiku gemerutuk. Hawa dingin sampai pada tulang. Sesekali aku terbangun untuk mengganti posisi tidur berharap akan menjadi lebih hangat. Tetapi sama saja. Maka, kupaksa agar badan ini menerima kondisi yang demikian. Beberapa teman tidak tidur. Djoko, Andi, dan Sigit. Mungkin mereka juga tidak bisa menahan dingin dengan tidur sehingga mereka membuat api unggun kecil. Sekadar untuk menghangatkan badan.
Kami semua yang tidur benar-benar bangun pada 04.48 di 21 Mei. Selendang fajar sudah terlihat dan makin memperindah langit ufuk timur. Sedangkan di depan kami, Merapi berdiri dengan gagahnya. Halimun menyelimutinya. Merapi seperti terlihat di atas awan karena desa dan kota di bawahnya belum terlihat. Lama kelamaan, cincin matahari menjadi benar-benar utuh dan langit semakin cerah. Foto-foto dengan aneka pose tentu kami lakukan untuk mengabadikan kenangan ini. Sesudahnya, kami menyiapkan sarapan kami di pagi itu. Nasi putih, mi goreng, sarden, dengan lauk telur asin dan srundeng. Hmmm...ini masakan paling mewah yang kurasakan selama beberapa kali aku mendaki gunung dengan teman-teman. Di bagi menjadi 3 piring, kamu juga dibagi menjadi tiga kelompok. Inilah nikmatnya makan di gunung saat pendakian. Suasananya berbeda. Sangat indah untuk dikenang nanti, pada suatu saat yang entah.
Pukul 07.50 kami melanjutkan pendakian setelah selesai sarapan dan kembali packing. Hanya foto yang boleh diambil dan hanya jejak yang boleh ditinggalkan. Maka, sebelum pergi kami membakar sampah yang kami hasilkan selama di sana. Menunggu apinya sampai padam agar tidak menyebabkan kebakaran.
Perjalanan selanjutnya, kami harus melalui 3 bukit untuk sampai di puncak Merbabu. Jalanan cukup terjal menuju sabana 2. Jalan setelah Batu Tulis terutama. Sangat curam dan terjal. Kakiku yang cukup pendek sedikit kesulitan untuk dapat menghabiskan jarak yang terbentang antara tanah satu dengan yang lain. Batu yang satu dengan batu yang lain. Di sinilah kekompakan tim kami diuji. Saling bantu, saling mengulurkan tangan, saling memberi semangat bahwa perjalanan ini bisa kami selesaikan dengan baik. Kami sampai di sabana 2 sekitar pukul 10. Sebelumnya, tim dipecah menjadi 2. Aku dengan Andi, Sigit, Jatmiko, Huda, Desi, Tyas, Aish, dan Tambak berada pada kelompok pertama. Djoko dengan yang lainnya ingin beristirahat sebentar.


Sampai sabana 2, kami terpesona dengan keindahan sabana dan edelweiss yang mulai berbunga. Maka, sesi foto-foto pun dimulai lagi. Keagungan Tuhan kami kagumi dengan sangat. Betapa indahnya pemandangan di sekitar kami. Tapi kami termotivasi dengan ucapan seorang teman bahwa pemandangan selanjutnya akan lebih indah karena edelweiss lebih rapat dan sabananya lebih indah. Maka kami terpacu untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Kami sampai di sabana 3 atau pos 4 pada 11.33. Dan iya, sangat luar biasa. Bukit yang mengelilingi kami sangat indah. Padang rumput terbentang sangat luas. Edelweiss tumbuh dengan subur dan tertata dengan rapi. Siapa yang menanam edelweiss di sana? Itu yang terpikirkan olehku.
Di sana, kami juga menunggu rombongan kedua agar dapat melanjutkan perjalanan menuju puncak bersama. Beberapa waktu berlalu, akhirnya rombongan kedua datang. Sayangnya, kami harus mengurangi jumlah personil kami untuk perjalanan selanjutnya menuju puncak. Aish dan Tambak tidak bisa melanjutkan perjalanan ke puncak. Kondisi Aish tidak dalam keadaan yang baik. Tambak menemaninya. Maka, di sabana 3 kami meninggalkan teman kami untuk naik menuju puncak. Ke atas, kami hanya membawa logistik seadanya karena kami meninggalkannya dengan Aish dan Tambak di sabana 3.
Perjalanan menjadi sedikit ringan karena tidak ada beban di badan kami. Hanya 3 orang teman yang membawa logistik. Makan dan minum. Dan akhirnya kami sampai di puncak pertama, Puncak Triangulasi pada 13.10. Sujud syukur, alhamdulillah. Kami sampai dengan selamat sampai ke puncak. Cuaca sangat cerah. Angin sangat ramah. Kami berada dalam suasana yang sempurna untuk puncak Merbabu kali ini. Foto-foto di sana tentu tidak ketinggalan kami lakukan. Lalu kami membuka logistik yang kami bawa. Setelahnya, kami turun sebentar dan naik lagi menuju puncak kedua Merbabu, Kenteng Songo. Kami sampai di sana pada 13.45. Menikmati suasana sejenak di sana, kemudian kami harus turun lagi karena dua teman kami menunggu di sabana 3. Kabut yang turun membuat kami sedikit khawatir tentang hujan kabut di bawah. Maka kami segera turun pada 14.00 dan berkumpul kembali di sabana 3 sekitar pukul 15. Ternyata, dua teman kami di sabana 3 sudah memasak untuk kami yang baru datang dari puncak. Di sana, kami kembali makan dan rehat sampai pukul 16.15.
Perjalanan turun kami lanjutkan. Berdoa sebelum kami melakukan turun gunung. Mengucap syukur karena telah berpelukan dengan dinginnya angin gunung. Kami telah memeluk Merbabu dengan dingin dan kabutnya.


Jalur perjalanan turun kami tidak sama dengan jalur saat kami melakukan pendakian. Kami mencoba mencari jalur yang sesungguhnya. Seharusnya, perjalanan memang dapat lebih cepat. Tapi, kondisi fisik beberapa anggota tim sudah tersedot untuk pendakian. Beberapa teman wanita harus dipapah. Motivasi lebih sering diberikan bahwa jarak sudah semakin dekat dengan basecamp agar semangat tetap terus menyala. Kaki memang sudah mengeluh dan ingin segera berhenti berjalan. Lutut pun rasanya sudah tidak memiliki kekuatan untuk mengeper karena jauhnya perjalanan. Tapi, jika kami berhenti terlalu lama udara akan menjadi lebih dingin dan kantuk dapat menyerang. Maka, kami harus melawan rasa itu. Akhirnya, kami dapat sampai di basecamp pada 22.20. Tim lengkap dan semuanya berada dalam kondisi yang sehat meski tidak terlalu kuat. Kami berhasil mencapai puncak Merbabu dan turun kembali dalam keadaan selamat. Langit dipenuhi dengan bintang yang kali ini jumlahnya lebih banyak daripada malam sebelumnya. Bintang menjadi obat atas kelelahan yang kami rasakan. Ia hadir sekaligus untuk mengucapkan selamat pada kami.
Kami sampai lagi di Solo pukul 00.57 pada 22 Mei 2011. Dari Selo ke Solo, aku, Desi, dan Djoko masih naik satu motor yang sama... ^^

1 komentar:

Julia mengatakan...

selamat ya mbaaak...
cuma aku yang belum kesampaian menuju puncak hiks T.T