Pesan untukmu,,,

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Anak Semua Bangsa-Pramudya Ananta Toer)
Tampilkan postingan dengan label esai dan opini pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai dan opini pribadi. Tampilkan semua postingan

Senin, Juli 11, 2011

Selamat Datang Mahasiswa Biasa di Kampus yang Biasa-Biasa Saja

Boulevard Kampus Hijau, Universitas
Sebelas Maret, Surakarta
Hari ini sama seperti pada empat tahun terakhir. Aku melihat rombongan pemuda memasuki kampus ini dengan beraneka mimpi yang mereka miliki. Dan pemandangan yang sama terlihat dari sisi yang lain. Lembaga dan organisasi kemahasiswaan di kampus ini mulai unjuk gigi untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Menunjukkan keunggulan yang dimiliki jika dibandingkan dengan organisasi yang lain. Misinya sama, menarik calon kader agar mereka masuk di masing-masing organisasi tersebut.
Menarik. Setiap organisasi membuat diri mereka menjadi begitu menarik untuk mahasiswa baru yang masih awam dengan dunia kampus. Di sinilah, organisasi kampus yang biasanya hilang dalam kancah pergerakan mahasiswa di kampus dapat terlihat menggeliat agar bisa mendapatkan ‘keturunan’ yang akan melanjutkan pergerakan mereka yang sudah kembang kempis. Tak apa! Yang demikian masih dihalalkan.

Senin, Mei 30, 2011

Taare Zameen Par: Every Child is Special

Aamir Khan dan Dharsheel Safary,,
senyum anak-anak begitu indah
Setiap anak memiliki keunikan. Mereka semua adalah sesuatu yang spesial. Kalian, kita hanya cukup melihat mereka lebih dekat. Lebih mengerti mereka, lebih memperhatikan mereka. Anak-anak adalah mutiara yang berkilauan dan menghiasi dunia ini. Mimpi-mimpi mereka adalah kekuatan yang akan membuat mereka tetap bersinar. Bakat yang mereka miliki adalah bekal untuk hidup mereka.
Demikian pesan pendek yang dimunculkan dalam sebuah film yang berjudul seperti judul tulisan ini, “Taare Zameen Par”. Film yang diproduksi oleh Aamir Khan, salah satu aktor gaek dalam film-film India, ini adalah salah satu film Bollywood yang membawa satu pencerahan dan hal baru bagi penikmatnya. Film ini bercerita tentang seorang anak, Ishaan, yang menderita disleksia. Sebuah penyakit yang bisa saja terjadi akibat keturunan. Penderita disleksia akan mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis karena mereka tidak memiliki kemampuan dasar untuk membedakan huruf yang satu dengan huruf yang lain yang cenderung mirip, misalnya ‘b’ dan ‘d’. Mereka yang menderita ini juga cenderung memasangkan huruf untuk membuat kata dalam urutan yang terbalik, misalnya, ‘sir’ ditulis ‘ris’.

Kamis, Mei 05, 2011

Pengaruh Periode Aufklarung pada Tatanan Masyarakat Dunia

Pendahuluan
Aufklarung adalah suatu gerakan besar di Eropa pada abad ke-18 M yang memberi kedudukan dan kepercayaan luar biasa kepada akal budi manusia. Gerakan ini tumbuh sejalan dengan penemuan-penemuan besar di bidang ilmu pengetahuan alam di Italia, Jerman, Polandia, dan Inggris. Beberapa ilmuwan yang hadir dan meramaikan ilmu pengetahuan pada masa ini, antara lain Galileo, Kepler, Copernicus, dan Newton.
Pada masa aufklarung, falsafah rasionalisme menjamur di Perancis dan Belanda. Aliran ini menempatkan kedudukan akal begitu tinggi dalam mencapai kebenaran. Tokoh yang mencetuskan falsafah rasionalisme adalah Descartes dan Spinoza. Ungkapan terkenal yang keluar dari Descartes adalah Cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada). Pada tahap selanjutnya, berkembangnya ilmu-ilmu eksakta dan kedudukannya yang tinggi dalam masyarakat terpelajar juga disusul dengan berkembangnya paham-paham seperti empirisme di Inggris oleh John Locke, rasionalisme Kant, dan idealisme Hegel.
Periode aufklarung telah banyak membawa perubahan pola pikir manusia. Manusia mulai menggunakan akalnya untuk meneliti secara kritis segala yang ada dalam kehidupannya termasuk dalam kehidupan bernegara dengan segala aspek yang ada di dalamnya. Masa inilah yang kemudian membuat para tokoh yang kemudian terkenal sebagai pelopor sebuah aliran untuk mulai menyuarakan pendapatnya. Pendapat ini dapat berupa celaan dan kritikan tajam terhadap kinerja pemerintah yang otoriter dan ditator terhadap rakyatnya.
Selain itu, perjumpaan akal budi dengan pengalaman manusia (empiri) kemudian menghasilkan science yang maju. Menurut pandangan Aufklarung dengan penyebarluasan ilmu pengetahuan maka harkat dan martabat manusia akan semakin meningkat. Bagi mereka science merupakan sumber kebahagiaan pula. Lahirlah scientisme, yakni sebuah paham yang memandang science sebagai satu hal yang segalanya dalam mencapai kebenaran, kebaikan, dan keindahan.
Makalah pendek ini akan membahas tentang periode aufklarung, terutama di Prancis dan beberapa pengaruhnya dalam kehidupan manusia selanjutnya.

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PENGGALIAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL BUDAYA JAWA (Tembang Macapat sebagai Alternatif Bahan Ajar Penanaman Karakter)

ABSTRAK
Pendidikan karakter marak menjadi perbincangan di Indonesia pada beberapa tahun terakhir. Hal tersebut berkaitan dengan menurunnya moral dan nilai yang dialami oleh peserta didik dan lulusan sebagai output pendidikan Indonesia. Pada prinsipnya pendidikan karakter di Indonesia sudah dilakukan sejak zaman Ki Hajar Dewantara, tetapi kemudian tergerus dengan adanya nilai-nilai modern yang masuk dengan begitu derasnya, termasuk dalam bidang pendidikan di Indonesia. Karena itulah, pendidikan karakter sekarang ini masih dipandang sebagai wacana dan belum menjadi bagian yang terintegrasi dalam pendidikan formal, padahal pendidikan di Indonesia sudah memiliki mata pelajaran pancasila, kewarganegaraan, budi pekerti, dan sejenisnya.
Makalah ini membahas tentang pentingnya pendidikan karakter di Indonesia, terutama dalam menghadapi ide dan arus globalisasi. Indonesia membutuhkan lulusan-lulusan pendidikan yang tidak hanya kompeten namun juga berkarakter agar bangsa Indonesia tetap menunjukkan karakternya dalam kancah persaingan internasional. Salah satu yang dapat dilakukan dalam pendidikan karakter adalah penggalian nilai-nilai kearifan lokal. Salah satunya melalui tembang-tembang macapat yang telah terkenal memiliki pesan dan nilai kehidupan yang agung. Pengintegrasian nilai-nilai di dalamnya dalam pendidikan di Indonesia akan membuat anak didik memiliki karakter sekaligus menunjukkan kepribadian bangsa. Hal tersebut akan membuat keluaran pendidikan Indonesia memiliki kompetensi yang cukup, bukan hanya dalam kecerdasan kognitif, melainkan juga kecerdasan emosi. Guru sebagai pendidik dan pengajar memiliki peran penting dalam pelaksanaan pendidikan karakter tersebut.

Kata kunci: pendidikan karakter, tembang macapat, globalisasi.

Jumat, Maret 25, 2011

Analisis Kritis Novel Perempuan Berkalung Sorban: Sebuah Pendekatan Feminisme Sastra


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karya sastra sebagai salah satu produk sebuah kebudayaan dapat dikatakan sebagai cerminan dari masyarakat tempat karya sastra itu lahir. Sebuah penelitian yang membicarakan tentang maju tidaknya atau tinggi rendahnya sebuah kebudayaan tidak hanya ditilik dari karya-karya atau tulisan ilmiah yang dihasilkannya. Tetapi, penilaian tentang hal tersebut dapat juga dilakukan dengan melihat karya-karya sastra yang dihasilkan oleh masyarakat yang bersangkutan.
Kita tidak perlu harus terjun masuk ke dalam masyarakat untuk mengetahui kebudayaan suatu masyarakat. Penelitian dapat dilakukan dengan cara menggali karya-karya fiksi, seperti buku-buku sastra atau novel. Hal inilah yang membuat perkembangan sastra tidak bisa dipisahkan dengan pola kehidupan dan pola pikir masyarakatnya. Cara masyarakat untuk hidup dan bertingkah laku dalam kehidupan sosial mereka bisa sangat mempengaruhi seorang penulis dalam merefleksikan pemikirannya tentang suatu masalah yang kemudian bisa diwujudkan dalam suatu kreasi yang kemudian layak disebut sebagai suatu karya sastra. Dan hal yang serupa juga terjadi pada perkembangan sastra di Indonesia.
Dalam perkembangannya, Abidah Al Khalieqy merupakan satu nama yang menghiasi jejak sastra di tanah air. Lewat karyanya, Abidah melukis kisah wanita dengan aneka perlawanannya terhadap budaya patriarki yang menurutnya masih terasa kental di negeri ini. Karya perdana yang dibukukan pada 2001 mengambil judul Perempuan Berkalung Sorban. Novel ini dinilai sebagai bentuk perjuangan yang bisa dilakukan oleh seorang penulis wanita untuk meningkatkan kedudukan kaumnya.
Novel Perempuan Berkalung Sorban adalah sebuah novel yang berbingkai feminisme. Perspektif feminisme lebih mengarah pada karya sastra yang ditulis perempuan sekaligus menampilkan tokoh perempuan dengan berbagai masalahnya. Perspektif dimaksud tidak semata-mata memandang novel dari kacamata estetika, tetapi juga memfokuskan kajian pada makna dan hubungannya dengan realitas sosial dan budaya.
Novel Perempuan Berkalung Sorban memiliki kandungan ekspresi dan konsistensi fiksional untuk mengutuhkan kepribadian, kecerdasan, dan keyakinan tokoh perempuan di dalamnya. Pengutuhan itu bukan saja terbaca dari latar sosial tokohnya, Annisa, tetapi juga emansipasi pemikiran dan keberaniannya untuk melawan dominasi dan diskriminasi tokoh-tokoh antagonis yang bersifat patriarkis. Penggambaran posisi dan sikap tokoh perempuan tersebut juga mencerminkan adanya upaya untuk menanggapi dan mencari solusi terhadap masalah gender yang ditimbulkan oleh ketidakadilan sosial dan budaya di sekitar tokoh itu berada.
Inilah yang kemudian melatarbelakangi peneliti untuk mengkaji novel Perempuan Berkalung Surban dengan judul Analisis Kritis Novel Perempuan Berkalung Sorban: Sebuah Pendekatan Feminisme Sastra.

Selasa, Juli 27, 2010

Tentang Soetarti-Rusmini


Dua nama ini ramai dibicarakan oleh beberapa program berita di stasiun-stasiun televisi sejak masalah yang menimpanya pada Desember tahun lalu. Keduanya adalah janda pahlawan yang tekena kasus sengketa dengan pegadaian. Pegadaian sebagai lembaga yang menggugat telah melaporkan keduanya kepada pihak pengadilan dengan alasan keduanya telah menyerobot rumah dan tanah yang menjadi hak pegadaian. Yang perlu menjadi catatan adalah bahwa para almarhum suami mereka mendapat title pahlawan. Kedua almarhum adalah masuk dalam tentara PETA yang merupakan cikal bakal tentara Republik ini. Keduanya pun dimakamkan di salah satu makam pahlawan di Jakarta sana. Tercatat jelas, ada 12 penghargaan dan tanda jasa pahlawan untuk mereka. Namun, di Indonesia sepertinya hal itu tidak bernilai apa-apa.
Kedua janda, Soetarti dan Rusmini yang mendapat tuduhan telah meyerobot tanah serta rumah itu mengalami kekalahan dengan pihak pegadaian di tingkat pengadilan negeri. Tidak kurang usaha mereka hingga mereka berdua membawa kasus tersebut ke tingkat Mahkamah Agung dengan melakukan kasasi. Beberapa ormas dan elemen masyarakat kemudian turut hadir mendukung usaha mereka. Gerakan “Hati Waras” salah satunya. Gerakan ini mengajak masyarakat dan para keluarga tentara khususnya agar mereka mendukung dan membantu Soetarti-Rusmini. Logika sederhana yang diberikan oleh penggagas gerakan ini -maaf saya lupa siapa namanya, yang pasti dia adalah salah satu artis pada era 80-an- adalah bahwa apa yang akan terjadi seandainya pada keluarga mereka (para tentara yang sekarang masih menjabat) diperlakukan hal yang serupa pada puluhan tahun mendatang ketika para tentara sudah pensiun atau meningal dunia. Nyatanya, gerakan yang membawa nafas simpati dan empati memang masih cukup efektif di negeri ini. Dukungan yang cukup besar hadir untuk perjuangan Soetarti-Rusmini dan menjadi semangat tersendiri bagi mereka.
“Tidak ada Republik ini kalau tidak ada pahlawan!!!” Begitulah yang diungkapkan oleh salah satu Sejarawan kita. Miris sekali memang jika cerita para janda pahlawan itu berakhir dengan keputusan bahwa mereka harus menghabiskan waktu dua tahun dalam jeruji besi atas ‘ulah’ mereka yang tidak mau meninggalkan rumah yang telah mereka diami selama puluhan tahun. Begitulah, waktu dua tahun dalam jeruji besi memang menjadi ancaman buat mereka jika mereka kalah dalam putusan pengadilan pada hari ini (27/7). Sebuah pengadilan yang konyol. Istri pahlawan kita dipidanakan karena perkara yang seharusnya dapat diselesaikan lewat usaha kekeluargaan.
Bukan tanpa usaha jika akhirnya Soetarti-Rusmini harus memperkarakan masalah ini sampai tingkat ini. Pada 2008 lalu keduanya sudah mengajak berunding dan mengambil solusi bahwa mereka akan membeli saja tanah dan rumah tersebut jika mereka sudah tidak bisa menempatinya lagi karena alasan pegadaian membutuhkan dana. Tapi, keinginan tersebut tidak diindahkan oleh pihak pegadaian. Isu yang beredar selanjutnya adalah bahwa tanah tersebut akan digunakan sebagai perumahan elite. Sebuah alasan yang menurut saya sangat tidak berperasaan melihat bahwa kedua janda tersebut memiliki nilai yang lebih dari sekadar uang puluhan atau ratusan juta. Mereka memiliki kenangan atas tempat tersebut. Saya pikir, ini adalah nilai yang tidak bisa dikalahkan oleh apapun. Terkesan sentimental memang.
Dan pengadilan telah memutuskan siang tadi, sekitar pukul 12 siang, bahwa Soetarti divonis bebas dari tuduhan yang diberikan. Pihak pegadaian pun diminta untuk melakukan rehabilitasi atas nama baik Soetarti. Rusmini masih menunggu keputusan sidangnya. Keinginan masyarakat –atau mungkin saya pribadi- adalah bahwa Rusmini memiliki nasib yang sama dengan Soetarti. Divonis bebas dengan rehabilitasi nama dan mereka dapat hidup dengan tenang di usia senja mereka di rumah yang telah mereka tinggali selama ini sambil mengenang masing-masing suami tercinta. Mengingat getir perjuangan yang telah mereka alami demi berdirinya Republik ini. Tidak terbayangkan seandainya hukuman dua tahun kurungan penjara benar-benar dijatuhkan kepada mereka berdua. “Saya akan memindahkan jenazah suami saya dari makam pahlawan. Dan menguburnya kembali di Solo. Tidak pantas kiranya jika istrinya dicap sebagai seorang pidana sedangkan suaminya adalah pahlawan. Juga akan saya kembalikan tanda jasa yang dimiliki suami saya kepada negara melalui presiden”. Kurang lebihnya seperti itulah yang diungkapkan Soetarti kalau putusan pengadilan tidak berpihak padanya. Ungkapannya juga mewakili Rusmini yang juga akan memindahkan jenazah suaminya ke Banyumas jika ia mendapat hukuman penjara.
Miris sekaligus merinding yang saya rasakan ketika mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut janda para pahlawan itu. Seperti inikah bangsaku??? Tidak terbayangkan jika simbah putriku mendapatkan perlakuan yang serupa. Ya, almarhum simbah kakung juga seorang pejuang dulu. Meski namanya tidak diabadikan sebagai pahlawan Republik ini. Tapi simbah ikut berjuang dalam upaya penyatuan Republik ini. Pun simbah sangat kecewa ketika Timor Timur lepas dari badan Republik ini karena timah panas dulu pernah masuk ke tubuhnya demi usaha penyatuan daerah itu ke tubuh NKRI. Berpisahnya Timor Timur dari negara ini menjadi kisah sedih tersendiri bagi simbah kakung.
Negeri ini bernama Indonesia. Salah satu founding father negara ini, Ir. Soekarno pernah menyebutkan bahwa bangsa yang besar adalah yang mampu menghargai jasa pahlawannya. Maka, patut kita pertanyakan seberapa besar jiwa kita? Pasti masih terlalu kerdil hingga untuk menghormati para pahlawan lewat keluarganya yang masih hidup saja kita harus belajar. Catatan penting, entah ini adalah ‘pikiran buruk’ saya atau entahlah mau diberi nama apa. Banyak sindiran dan kata-kata pedas diberikan kepada pihak pengadilan dan para jaksa penuntut atas kasus tersebut. Tak terbayangkan lagi juga seandainya vonis bebas tidak diberikan pengadilan terhadap dua janda pahlawan tersebut. Maka, pengadilan dan para jaksa tinggal menunggu vonis penilaian dari masyarakat atas kinerja mereka yang makin tidak menggunakan nurani sebagai pedomannya!!!

Maru, selamat datang untuk membuat perubahan!!!


Mahasiswa. Sapaan ini akan menjadi mesra dan telah melekat pada teman-teman mahasiswa baru. Setiap tahun, ratusan bahkan ribuan pemuda berebut untuk mendapatkan posisi yang sama dan sekarang teman-teman yang duduk di kursi inilah yang mendapatkanya. Berbanggalah karena posisi ini adalah yang diinginkan oleh ribuan pemuda lagi yang ada di luar sana yang gagal bersaing karena kurang beruntung atau keterbatasan biaya pendidikan yang dimilikinya. Berpikirlah dan bergeraklah karena posisi ini menuntut setiap orang yang mendudukinya untuk melakukan sesuatu dan berbuat. Membuat sebuah perubahan, membuat sebuah perbaikan. Kumpulan sebuah-sebuah inilah yang nanti akan terkumpul menjadi satu dari ribuan mahasiswa yang akan membuat perbaikan dan kemajuan yang besar bagi Indonesia.
Posisi mahasiswa jelas diakui masyarakat kita sebagai sebuah posisi yang memiliki nilai tawar yang tinggi. Artinya, pada posisi ini mahasiswa dapat mempengaruhi kebijakan atau sebuah aturan jika tidak sesuai dan tidak memihak rakyat. Itu jika kita membicarakan permasalahan posisi tawar dari sudut pandang politik. Tetapi, mahasiswa memang tidak akan banyak memiliki banyak jarak dengan lingkup ini seharusnya. Sejak awal kemunculannya, mahasiswa begitu dekat dengan peran dan pergerakan politik. Di negara mana saja jika kita mau melakukan kilas balik sejarah.
Mahasiswa. Posisi ini memang jelas berbeda jika dibandingkan dengan jenjang pendidikan yang telah dilalui oleh para pemuda pada beberapa tahun sebelumnya. Jika pada jenjang sebelumnya, para siswa banyak disibukkan dengan pertemuan di kelas, PR, tugas, ulangan, maka hal yang sama sangat mungkin juga akan ditemui pada jenjang perkuliahan. Tetapi, tentu saja orientasi harus sudah mulai bergeser. Manajemen waktu yang apik sangat diperlukan agar mahasiswa tidak terjebak pada rutinitas yang kalau boleh dikatakan “monoton” itu. Jika masih sama, maka pemuda yang berada pada posisi mahasiswa pun tidak akan pandai melakukan peran politik dan sosialnya karena sesungguhnya peran inilah yang menjadi penting bagi diri mahasiswa. Kaum intelek yang peduli dengan sesamanya, tidak hanya sibuk dengan kepentingan dirinya yang hanya berkutat dengan modul dan buku-buku kuliah agar nilai kuliahnya mendapatkan predikat A.
Tidak. Bukan berarti tulisan ini membuat teman-teman yang sekarang berstatus mahasiswa berpikir bahwa belajar tidak lagi menjadi kewajiban. Belajar adalah sebuah kebutuhan untuk manusia dan tentu saja mahasiswa sangat membutuhkannya. Belajar bisa dilakukan di mana saja dan sebuah teori tentang belajar mengatakan bahwa lingkungan adalah tempat dan sumber belajar yang terbaik. Dalam kondisi ini, mahasiswa dapat belajar dari lingkungan sekitar. Permasalahan masyarakat seharusnya membuat mahasiswa peka dan berpikir untuk memberikan solusi atasnya.
Sangat menyedihkan jika ternyata mahasiswa terjebak dan terperangkap pada padatnya susunan kurikulum saat ini. Kurikulum padat, praktikum sampai sore, tugas yang setumpuk, kuis tiap hari. Semuanya tidak layak untuk dijadikan alasan dan kambing hitam bahwa sekarang mahasiswa sulit memiliki waktu untuk berorganisasi, untuk mendapatkan life skill yang lain. Mau menyalahkan siapa? Sistem pendidikan kita sudah seperti ini. Mahasiswa yang tetap harus mencari celah untuk berkegiatan, untuk berorganisasi. Karena sekali lagi mahasiswa hadir untuk bergerak, untuk berbuat, untuk sebuah perubahan yang lebih baik. Maka, selamat datang untuk mahasiswa baru 2010. semoga kalian akan menemukan hakikat diri kalian di kampus hijau ini. Salam!!!

*Tutut Dwi Handayani
Bastin’06, masih menunggu waktu wisuda….
Tulisan pendek untuk adik-adikku di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNS.

Rabu, Mei 27, 2009

Suatu kali, di negeriku di bulan Mei

Bulan Mei agaknya memang pantas dijadikan sebagai salah satu bulan yang wajib diistimewakan oleh bangsa Indonesia. Tentu saja ini tanpa mengurangi keistimewaan bulan-bulan lain. Tidak lantas kita terlalu mengagungkan bulan Mei juga. Tapi keberadaannya sebagai salah satu bulan dalam kalender yang kita pakai - bangsa Indonesia secara umum - memiliki beberapa hari istimewa yang menjadi peringatan bangsa ini. Selain bulan Agustus yang setiap tanggal 17 nya menjadi hari sakral karena kita memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia, bulan Mei memiliki beberapa tanggal yang menjadi perhatian publik Indonesia.
Setiap tanggal 2 Mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Kelahiran seorang tokoh pendidikan bangsa menjadi tonggak diperingatinya hari tersebut. Adalah Ki Hajar Dewantara yang telah menghembuskan semangat perjuangan bangsa untuk pendidikan anak negeri. Sekolah yang ia dirikan di Yogyakarta, Sarjana Wiyata Taman Siswa masih berdiri tegak hingga kini menandai bahwa ruh perjuangan itu masih ada hingga sekarang dan sampai nanti. Pendidikan pun dijadikan salah satu tujuan pembangunan nasional yang tertera dalam Pembukaan Undang-Undang 1945. Bahwa pemerintahan yang berlangsung bertanggung jawab atas usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Setiap anak yang menghembuskan nafas di bumi Indonesia berhak atas pendidikan yang seharusnya dapat mereka enyam dengan pantas dan wajar. Begitulah seharusnya!
20 Mei, setiap tanggal ini kita memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tahun ini kebangkitan nasional menginjak usia yang ke 101. Sebuah gerakan yang cukup lama, cukup tua sebenarnya. Organisasi Budi Utomo menjadi semangat yang mengawali kebangkitan nasional Indonesia. Dengan politik etis yang mulai diberlakukan, kaum pelajar waktu itu mulai mengerti arah perjuangan bangsa. Budi Utomo adalah organisasi pertama yang membawa semangat dan paham nasionalisme. Sebelumnya para jong negeri ini masih terbawa dengan semangat chauvinisme kedaerahan yang begitu melekat erat. 20 Mei 1908 menjadi titik tolak perjuangan bangsa ini untuk menuju puncak perjuangan dengan deklarasi oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.
Selanjutnya, beberapa peristiwa di bulan Mei menjadi konsen masyarakat kita sejak 11 tahun terakhir. Tonggak awal reformasi terjadi pada bulan Mei 1998 yang lalu. Harus kita sadari bahwa reformasi telah berjalan selama satu dasawarsa lebih. Jika pada 1908, mahasiswa kedokteran School Tot Oppleiding Van Indische Artsen (STOVIA) atau sekolah pendidikan dokter Hindia yang berperan dalam pendirian organisasi Budi Utomo. Maka, pada 1998 hampir semua mahasiswa dari seluruh penjuru negeri menyuarakan hal yang sama meskipun tidak semuanya bisa hadir di gedung MPR untuk menyatakan tuntutan mereka. Sekali lagi adalah mahasiswa yang berada di barisan pertama negeri ini untuk menyuarakan ’suara yang terbungkam’. Peristiwa Semanggi atau Trisakti adalah contoh kecil dari fakta yang terungkap dalam perjuangan Mei 1998. Darah telah mengalir di sana, Kawan!!!
Dan memang gerakan mahasiswa 1998 berhasil mendapatkan tuntutannya. Presiden Soeharto mundur dan terjadilah gelombang reformasi di sana-sini, di seluruh penjuru negeri. Kebebasan pers, kebebasan berpendapat, kebebasan berorganisasi adalah salah tiga dari sekian kebebasan yang diraih setelah pemimpin orde baru itu tumbang. Tetapi, tidak selamanya reformasi yang digemborkan membawa pengaruh positif. Setelah itu, bangsa Indonesia seolah kehilangan jati diri. Kebebasan individu yang terlalu diumbar membuat kebebasan individu lain terganggu bahkan terbelenggu. Yang lain, adalah euforia kemenangan berlebihan yang bahkan hingga saat ini masih kentara. Lagu-lagu kejayaan masih sering dikumandangkan yang membuat mahasiswa lupa bahwa reformasi 1998 hanyalah sebuah awal. Periode selanjutnya lah yang harusnya diyakini sebagai masa perjuangan sebenarnya. Di sisi lain, aktivis 1998 yang memasuki dunia politik seolah lupa dengan komitmen awal mereka untuk membuat perubahan. Beberapa – atau banyak – di antaranya yang kemudian ikut arus dan lupa dengan nafas perjuangan yang telah mereka hembuskan pada Mei 1998.
Mahasiswa pasca reformasi 1998. Romantisme kemenangan itu masih terlalu mendominasi. Banyak aksi yang dilakukan tanpa menghasilkan banyak implikasi pada keputusan publik para petinggi negeri. Pendidikan politik jarang dilakukan di kampus yang harusnya menjadi tempat penggodokan mahasiswa sebelum tahu dunia luar yang liar. Kegiatan seremonial saja yang banyak dilakukan oleh mahasiswa yang menamai diri mereka sendiri aktivis kampus. Hanya sebagai bukti masih ada mahasiswa dengan setumpuk kegiatan intelektual mereka. Ya, hanya sebatas itu saya kira!!!
Belum banyak yang berubah sejak Mei 1998 lalu. Tentu saja selain jabatan kepresidenan dan kabinetnya yang telah berganti beberapa kali dan menjamurnya aneka penerbitan yang menamai diri mereka produk jurnalistik dan pers profesional. Mei tahun ini pun menjadi sebuah lembaran sejarah baru saat tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden akan berjuang untuk tampuk kekuasaan periode 2009-2014 dengan aneka usaha koalisi dan mungkin kong kalikong yang mereka lakukan.
Apapun itu, seperti yang pernah dipertanyakan oleh sastrawan gaek, Taufik Ismail dalam salah satu sajaknya ”... Masih adakah harapan untuk kita, manusia Indonesia?”, Mei tahun ini semoga menjadi awal yang apik untuk lembar sejarah negeri yang bernama Indonesia. Agar kita dapat menjawab dengan lantang pertanyaan Taufik Ismail, bahwa masih ada harapan untuk kita, manusia Indonesia. Yang akan menjadi kenang-kenangan untuk anak-cucu, generasi selanjutnya.

Rabu, Januari 07, 2009

Dari Seorang 'Penonton' Demonstrasi (Bukan Catatan Seorang Demonstran): Hanya sebuah Pikiran yang Ingin Dikeluarkan



Allahuakbar....Allahuakbar...Allahuakbar,,,
Begitulah takbir yang berkumandang di suatu siang yang cukup mendung suatu ketika saat aku sedang berada di salah satu sudut kota Solo untuk mencari makan siang. Agaknya di tempat tersebut sedang terjadi aksi yang lumayan besar. dan ternyata benar dugaanku tersebut. arak-arakan panjang menjadi rombongan dalam aksi demonstrasi tersebut. dari orang dewasa hingga anak kecil melakukan aksi yang katanya menyuarakan dan mengingatkan masyarakat kita bahwa saudara-daudara yang sedang berada di daerah konflik Palestina sana membutukan kita untuk melepaskan penjajahan nyata dari negara Zionis (Siapa lagi kalau bukan Israel). ya, format acara yang dibuat dalam aksi tersebut adalah seperti itu.
tapi, entahlah. aku tidak melihat tujuan itu dalam acara yang sedang mereka gelar waktu itu. sebagai catatan, ini adalah pertama kalinya aku melihat aksi dalam format yang cukup besar secara langsung. meski dulu pernah berhelut di salah satu organisasi kampus yang sering demo, toh aku tidak pernah tertarik untuk ikut aksi yang mereka (teman-teman organisasiku dulu) lakukan. alasan yang sering aku katakan peda mereka adalah bahwa mereka hanya berteriak-teriak saja di jalanan. terbukti ketika seorang teman aku tnya tentang tujuan dia ikut aksi, hanya gelengan lemah dan jawaban tidak tahu saja yang mereka berikan. tak tahu tujuan kenapa harus dijalankan. hanya ingin nurut dengan senior saja. ah, bodoh!!! bagaimana bisa dibilang mahasiswa, berpikir seperti itu saja masih belum bisa. mahasiswa bertindak dengan akal yang benar-benar waras meski kadang irasional..bukan karena 'manut' sama sesepuh yang kadang akalnya sudah diisi dengan aneka proyek dan kepentingan!!!
kembali pada suatu siang yang sedang kuceritakan tadi. orasi dari mereka sangat menggebu-gebu. ya, sangat. bahkan barisan anak kecil yang mungkin tidak tahu apa-apa (hanya tahu bahwa teman-teman mereka di Palestina sedang ditimpa musibah besar) ikut berteriak dan berlari mengimbangi semangat yang dewasa. beberapa teman melihatku. Ya, teringat diriku yang dulu berada dalam sistem mereka dan sekarang yang sedang berdiri di luar sistem melihat selutur tingkah polah mereka saat demonstrasi. aku hanya tersenyum dan mengatakan pada salah satu diantara mereka, 'sudah tahu tujuannya belum?'
aku hanya berdiri di luar lapangan mereka beraksi. sambil tetap berusaha menikmati mie ayam dan es teh yang sudah dipesan. tapi, sungguh ada pemanjangan yang begitu ganjil dan membuatku tersenyum miris. sebuah pemandanagn dan suara-suara yang sangat menggangguku melebihi para kawan pengamen yang berkali-kali mengeluarkan suara cempreng mereka. pemandangan itu adalah seliweran bendera yang dimiliki salah satu partai yang sedang akan berjuang untuk pemilu 2009 nanti. suara itu adalah lagu mars yang dimiliki oleh salah satu partai yang benderanya berseliweran, berkibar seenaknya saja memenuhi jalanan dan mengalahkan spanduk-spanduk orasi yang sedang dibawakan. Mungkin ini hanya pandanganku saja. penilaian dari sudut pandang orang yang berpikiran sederhana dan dari orang yang tidak pernah ikut aksi sepertiku ini.
aku hanya berpikir miris saja. bahkan dalam situasi yang seperti itu, mereka (partai politil) masih saja menggunakan momen-momen yang pas untuk membuat mereka lebih terkenal daripada yang lain. Kampanye gratis, begitu sajalah istilah yang aku gunakan. Bukan, masalahnya bukan apakah itu untuk eksistensi mereka atau agar masyarakat tahu bahwa ini adalah aksi yang sedang dilakukan oleh mereka. terlalu naif rasanya pikiran yang dimiliki oleh otakku ini.
Toh, aku juga tidak pernah tahu dengan jelas tentang politik tahi kucing yang sedang mereka jalankan untukk mengambil tampuk kekuasaan di negeri yang sudah tidak punya kuasa ini. menurutku, ironis sekali cara mereka mengambil simpati rakyat negeri ini. lewat aksi-aksi simpatik yang seperti itu, wajar saja jika rakyat kecil yang masih begitu bodoh di negeri ini bisa dengan mantap memilih mereka.
ahh, entahlah...apakah aku yang terlalu berburuk sangka dengan mereka. sekali lagi, ini hanya sekedar catatan kecil dari 'penikmat' deonstrasi yang marak terjadi di negeri ini. demonstrasi yang masih sering menimbulkan korban, bahkan bagi mereka yang tidak tahu pasti akan tujuan para demonstran 'tulen'.


*Gambar diambil dari http://images.google.co.id/images?hl=id&q=demonstrasi+film+Gie&btnG=Telusuri+Gambar&gbv=2.

Jumat, Oktober 31, 2008

Bukan Lagi Mimpi, Gaji Guru Naik 100%

Para guru agaknya sedang bersenang hati dengan adanya keputusan dari Panitia Kerja (Panja) Belanja Pusat Panitia Anggaran DPR yang menyetujui kenaikan gaji guru hingga 100%. Tahun 2009 sebagai tahun pemberlakuan kebijakan tersebut pastinya ditunggu-tunggu oleh para guru kita. Bagaimana tidak? Mereka akan mendapatkan gaji yang dua kali lipat besarnya daripada jumlah yang mereka dapatkan. Kebahagiaan yang lebih tentunya adalah milik mereka yang sudah lolos sertifikasi. Bisa dikatakan, tergantikan sudah perjuangan mereka saat harus mendapatkan sertifikasi dari dinas dengan adanya keputusan tersebut.
Sebenarnya, kenaikan gaji guru yang hingga 100% ini merupakan hasil dari perjuangan lobi-lobi panjang yang dilakukan kepada pemerintah pada tahun-tahun sebelumnya. Sedikit demi sedikit dan secara berkala, guru akhirnya bisa menikmati gaji yang cukup untuk menjamin kesejahteraan hidup mereka dan keluarga. Bahkan, guru yang mengabdi di daerah terpencil akan mendapatkan ’penghargaan’ yang lebih untuk menghargai usaha dan dedikasi mereka dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Dari tahun ke tahun pemerintah memang memperlihatkan itikad baik sebagai bentuk usaha menyejahterakan para pendidik bangsa. Tercatat bahwa pada tahun 2000 ada kenaikan tunjangan fungsional guru yang naik hingga 150% dan pada tahun 2007 kemarin pemerintah mulai menerapkan tunjangan profesi guru yang besarnya sama dengan gaji pokok dengan syarat lulus sertifikasi.
Adanya kenaikan gaji guru pada tahun 2009 mendatang juga disinyalir akan mampu meningkatkan minat para pencari pekerjaan untuk melirik guru sebagai profesi yang akan mereka pilih. Dan untuk mendapatkan tenaga pendidik yang benar-benar ’mumpuni’ tentunya LPTK sebagai lembaga pencetak tenaga kependidikan harus melakukan seleksi dan tes yang ketat agar keluaran LPTK nanti bisa menjadi pendidik yang benar-benar bisa diandalkan.
Maka, cukup berbangga hatilah yang memilih profesi guru. Setidaknya, keputusan yang dibuat pemerintah kali ini akan mampu meningkatkan citra profesi pendidik yang sebelumnya mungkin dipandang sebelah mata oleh para pelamar kerja,misalnya. Semoga langkah dan keputusan ini juga akan mampu membuat para guru semakin giat meningkatkan tingkat profesionalitas yang mereka miliki untuk mendharmabaktikan ilmu mereka sebagai penerang kehidupan bangsa.

Minggu, Oktober 26, 2008

Budaya Kita, Sudah Tradisi….!!!

Masih adakah harapan untuk kita, manusia Indonesia…
-Taufik Ismail-

Negaraku kaya. Banyak sumber daya di dalamnya. Emas, intan, mutiara, ikan aneka rupa, dan jenis flora-fauna yang cantik jelita. Semuanya ada. Tapi aneh, rakyatnya miskin nelangsa. Mereka menderita di tengah gemerlapnya kilau intan mutiara. Entah apa yang terjadi pada Indonesiaku.
Negaraku memiliki rakyat yang ramah tamah. Senyum penduduknya begitu tulus, bahkan bagi orang asing yang berkunjung ke sana. Indonesiaku adalah negeri ramah yang pernah dikenal dunia. Dengan aneka budaya, beraneka rupa suku dan warga. Perbedaan ras bukan alasan munculnya perpecahan antara mereka. Semuanya sama. Karena kami Bhinneka Tunggal Eka. Satu dalam keragaman budaya bangsa.
Tapi itu dulu, sulit kutemukan masa sekarang ini masyarakatku yang tersenyum ramah. Mereka sibuk mengurus perut yang berteriak minta diisi sedangkan harga barang-barang pokok merangkak naik setiap harinya. Di sisi lain, kelompok yang punya duit malah menimbun barang kebutuhan tersebut yang makin menambah derita saudara sendiri. Seolah lupa bahwa saudaranya yang lain bisa mati kelaparan karena tidak sanggup membeli beras yang harganya membumbung tinggi. Inikah budaya kita. Budaya yang tidak ingat saudara?
Negaraku juga kaya dengan cendekiawan. Banyak lembaga yang muncul untuk mengeksplorasinya. Tapi, entah kenapa tak banyak perubahan yang dibuat mereka. Bahkan mereka hilang entah ke mana karena tak ada yang tahu rimbanya. Ke mana ilmu yang mereka dpatkan. Apa mereka endapkan begitu saja di otak mereka? Harusnya mereka sampaikan kepada Indonesia, karena rakyat negeri ini menunggunya. Apa mereka sedang istirahat sejenak, tapi aku pikir itu terlalu lama. Apa ini juga budaya kita? Lama beristirahat untuk satu hal yang berguna. Lama menggunakan waktu untuk hal yang sia-sia.
Dari golongan intelektualpun begitu, harusnya mereka yang kemudian tanggap pada rakyat. Tapi sama saja. Mahasiswa masih sibuk mencari nilai untuk mengejar kelulusan. Apatis dengan sekitar. Yang penting AKU, bukan mereka!!!
Ini hanya sebuah goresan, Saudaraku. Sebuah pertanyaan yang muncul untuk nurani kita masing-masing. Mampukah kita menjawabnya dengan sepenuh hati. Dan malukah kita ketika mendapatkan jawaban yang menggambarkan diri kita yang ternyata memalukan. Jawablah saudaraku, jawablah dengan nuranimu. Lalu buat perbaikan untuk setiap langkahmu. Semoga ini bisa menjadi sedikit sumbangsih kita untuk ibu pertiwi, yang namanya selalu kita jadikan kambing hitam atas nasib diri. Ibu sudah menunggu lama untuk kita mengubah perangai buruk, budaya kita yang telah mentradisi. Karena masih ada harapan bagi kita, manusia Indonesia…

Bahasa Indonesia,, Sudah Cintakah Kita??


Bulan kesepuluh, Oktober telah ditetapkan sebagai Bulan Bahasa. Tentu saja, bukan karena alasan historis semata untuk mengenang saat-saat heroik ketika para pendahulu negeri ini berhasil menetapkan bahasa Indonesia (BI) sebagai bahasa nasional melalui ikrar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Namun, lebih daripada itu, untuk membumikan budaya bertutur, baik lisan maupun tulisan, secara baik dan benar, sesuai dengan konteksnya.
Bahasa Indonesia telah mengalami perjalanannya selama kurang lebih 80 tahun. Delapan dasawarsa yang cukup panjang untuk untuk sebuah rajutan perjalanan menuju ke arah kemajuan bahasa. Begitu seharusnya! Namun, pada kenyataannya, dalam beberapa hal bahasa Indonesia justru mengalami fenomena yang malahmembawa ke arah kemunduran. Masalah yang terjadi di masyarakat kita membuat bahasa Indonesia mengalami masa stagnan yang cukup memprihatinkan.
Pertama, penggunaan satuan bahasa yang salah kaprah dalam media massa, baik media elektronik maupun cetak. Bahasa dalam media massa yang diyakini sebagai bentuk yang tepat kemudian ditiru secara utuh oleh masyarakat sebagai alat berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, kesalahan pelafalan yang dilakukan oleh para pejabat publik yang cenderung menjadi kiblat bagi bawahan dan menjadi tren dalam masyarakat kita. Misalnya, gaya salah satu mantan presiden kita yang sering melafalkan /a/ menjadi /ə/. Yang memprihatinkan adalah bahwa gaya pelafalan yang seperti ini masih saja berlanjut sampai sekarang.
Ketiga, merebaknya gaya tuturan Indonesia-English yang dimotori oleh sebagian tokoh publik. Entah pejabat, entah para artis kita. Mereka sering menggunakan bahasa “gado-gado” yang lagi-lagi cenderung ditiru oleh masyarakat kita. Pola hubungan social dalam masyarakat kita pulalah yang juga ikut menyuburkan pembusukan bahasa Indonesia kita.
Maka, ketika kita mengatakan bahwa kita mencintai bahasa Indonesia, diperlukan satu sikap untuk perkembangan bahasa Indonesia di tahun-tahun mendatang. Tentu saja, perkembangan untuk menuju ke arah yang lebih baik. Bukan sebaliknya! Anak bahasa seperti kita, pasti tahu apa yang harus dilakukan. Sekarang, bukan lagi saatnya membicarakan teori tapi tunjukkan bukti itu. Bukti bahwa kita cinta bahasa Indonesia. Salah satu harta yang kita miliki!!

Selasa, Oktober 21, 2008

Sebuah Kota Bernama Rembang

Rembang, sebuah kota di tepi pantai utara Jawa. Ia terletak di ujung Jawa tengah yang berbatasan dengan Jawa Timur. Seandainya dari Rembang kita ingin ke Bancar sebagai daerah pertama di Jawa Timur, waktu yang kita butuhkan tidak lebih dari satu setengah jam atau lebih cepat dari itu jika kita menggunakan kendaraan sendiri.

Keadaan ekonomi kota Rembang dibandingkan dengan kota-kota tetangganya seperti Kudus dan Pati memang bisa dikatakan masih dibawahnya. Tapi keberadaan Rembang sebagai kota pesisir memberikan sumbangan tersendiri bagi perekonomian di daerah pantura. Hasil laut kota Rembang cukup mendominasi pasar-pasar di sepanjang kota-kota pantura. Hasilnya juga cukup bervariasi, mulai dari aneka ikan laut, rumput laut, juga aneka olahan makanan laut, seperti trasi, kerupuk, asinan dan yang lain. Jika Pekalongan dikenal sebagai kota batik, Rembang dikenal sebagai ‘kota garam’. Julukan kota yang cukup asing di dengar memang, tapi produksi garam kota Rembang bisa dibanggakan kualitasnya. Namun begitu, produksinya masih terbatas pada musim kemarau saja karena pembuatannya memang masih dengan cara yang tradisional, yaitu dengan mengalirkan air laut ke tempat-tempat yang telah disiapkan petani sebelumnya.

Selain itu, Rembang juga terkenal dengan aneka macam masakan yang cukup menggugah selera. Jika dikembangkan dengan baik, Rembang akan mampu menjadi salah satu pusat kuliner di Jawa Tengah. Di sana, ada lontong tuyuhan yang menjadi masakan yang paling diminati pengunjung kota Rembang. Ada juga garang asem yang dibuat dari ikan laut segar dengan bumbu asemnya yang membuat nafsu makan kita bertambah saat mencium aromanya. Masakan ini lebih nikmat lagi jika dimakan dengan nasi yang masih hangat. Kemudian, ada dumbeg yang khas saat ada upacara sedekah bumi. Makanan cemilan ini dibuat dari ketan dan gula jawa yang dibungkus dengan daun janur. Daun janur inilah yang membuat aroma dumbeg menjadi wangi. Makanan yang lain, misalnya kacang enthis yang cukup merambah pasar di kota-kota tetangga. Ada juga, satu yang menjadi kekhasan kota Rembang, yaitu buah kawis yang hanya mudah tumbuh di kota ini dan daerah Nusa Tenggara sana. Buah ini oleh masyarakat setempat kemudian diolah menjadi sirup. Produk yang dikenal adalah Sirup Kawista Dewa Burung.

Masih banyak hal-hal lain yang bisa kita temukan di Rembang seperti aneka tempat wisata, dari wisata gunung sampai wisata pantai, seperti Pantai Kartini. Rembang menjadi kota yang lengkap dengan aneka hal yang ada di sana. Sebuah perpaduan yang indah!