Pesan untukmu,,,

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Anak Semua Bangsa-Pramudya Ananta Toer)

Senin, Januari 28, 2013

Risalah dari Langit








“The Message” merupakan salah satu film yang menceritakan sejarah perkembangan Islam sejak awal kemunculannya di tanah Arab, di antara penduduk Mekkah. Film dimulai dengan penggambaran kondisi kota Mekkah saat-saat menjelang kenabian. Mekkah masih merupakan sebuah kota yang penuh dengan budaya jahiliyah. Berhala-berhala masih disembah dan tersebar mengelilingi dan di dalam Ka’bah.
Masa kenabian Rasul mengubah semuanya. Peringatan untuk menghapus budaya-budaya jahil diserukan untuk dihapuskan. Kaum Arab Mekkah tidak tinggal diam. Beberapa sahabat yang terang-terangan memproklamirkan diri sebagai muslim mendapat siksaan bertubi-tubi. Film ini memperlihatkan cara meninggalnya syahid-syahidah pertama dalam Islam, yakni Sumayyah dan Yasseer, orang tua Amr bin Yasseer.

Senin, Desember 17, 2012

Kagum dengan cara kerja-Mu, Tuhan...


Iya. Akhirnya memang aku harus mengakui bahwa hanya rencana-Mu saja yang akan berlaku, Tuhan. Sebaik-baik rencana yang sudah kubuat dan kutulis dalam setiap catatan tak ada guna jika Kau tak merencanakan yang sama denganku.

Selasa, Juli 03, 2012

Bergeraklah (karena aku suka dengan kata itu)


Tulisan ini mungkin sekali adalah bentuk kemarahan yang tidak bisa kusalurkan begitu saja hanya dengan berteriak atau mengumpat, atau bahkan hanya dengan menghancurkan sesuatu. Tulisan ini adalah bentuk kekecewaan yang menumpuk terus menerus dan lama-kelamaan menggunung. Kekecewaan yang menumpuk dalam hatiku sehingga tangan ini ingin sekali menumpahkannya. Kekecewaan terhadap almamaterku, terhadap kampus yang kukenal dan telah menempaku, yang telah memberiku gelar mahasiswa.

Selasa, April 24, 2012

Saat Perahu Kertas Siap Berlayar


Aku membaca novel ini pada Oktober tahun lalu. Sebenarnya, novel ini sudah terbit lebih lama dari itu. sekitar tahun 2009 atau 2010 mungkin karena aku sudah melihatnya di Gramedia. Tentu saja, saat aku melihatnya, aku langsung membalik dan melihat daftar harga di belakangnya. Maklumlah, keuangan mahasiswa harus menjadi catatan. Aku, yang kata teman-teman termasuk orang yang gila buku, pun harus sadar diri dan lebih memilih buku-buku lain yang lebih kubutuhkan waktu itu. lama sekali buku ini dipajang di Gramedia karena sampai sekarang pun mungkin masih bisa menemui buku ini dalam pajangan rak buku di sana. 
Aku, jujur saja, langsung tertarik dengan buku yang memiliki sampul warna hijau dengan gambar sama seperti judulnya, “perahu kertas”. Kugy dan Keenan, dua tokoh utama dalam novel ini. aku mengetahuinya saat membaca sinopsis singkat di cover bagian belakang. Dan karena membaca sinopsis inilah aku langsung tergelitik dan tersenyum sendiri, saat itu juga. Saat selesai membaca buku ini, keinginan untuk membuat catatan tentang buku ini langsung hadir seketika. Sama seperti yang terjadi padaku jika aku selesai membaca buku bagus dan menarik untukku. Tapi, keinginan itu baru bisa kuwujudkan sekarang. Entah apa yang terjadi pada beberapa bulan lalu yang membuatku terlambat menulis tentang buku ini? (hehe...)

Rabu, April 18, 2012

Gadis Pantai dan Langit Biru


Bibir pantai ini masih sama. seperti belasan tahun yang lalu. Saat awal-awal aku mulai menikmatinya untuk mengenangmu. Mengingat setiap kluster waktu yang pernah terlewat dengan senyuman. Masa-masa terindah dalam usiaku yang menginjak 23. Bukan masa-masa SMA seperti sebuah lagu yang sering didendangkan. Tapi adalah masa ketika usiaku belum meninggalkan usia dalam ukuran satuan. Sebelum melepaskan usia 11. Waktu aku masih asyik bermain denganmu. Di pantai ini. Di laut ini.
Kurebahkan punggungku. Telentang menghadap langitku yang biru. Ah, biru. Aku selalu menyukai warna itu. Karena warna laut juga biru. Air laut yang menyentuh bibir pantai ini juga menyentuh punggungku. Menyentuh setiap bagian tubuhku. Seandainya aku bisa berenang, mungkin aku akan masuk ke dalam lautmu. Menyelam dan mengintip sebentar duniamu. Tapi aku tidak bisa dan memilih telentang di sini, di bibir pantaimu. Kugenggam sedikit pasir basah yang mengelilingi tubuhku. Andai, aku bisa menggenggam mimpiku itu seperti ini. Andai aku bisa menggenggam tanganmu seperti ini. Tapi, aku selalu tak bisa. Aku memilih untuk melepasmu. Selalu. Kupejamkan mata untuk merasai hadirmu. Itulah aku pada beberapa tahun lalu.
***

Kamis, Januari 26, 2012

Aku takut menjadi egois, Tuhan....


Rasanya sangat aneh..
belakangan ini aku mulai merasakan diriku semakin tenggelam dalam kebutuhanku sendiri. Ketakutan itu datang lagi ketika aku hanya memikirkan diriku sendiri. Kepentingan dan kebutuhan yang hanya akan dinikmati oleh rasaku sendiri. Ini seperti bukan diriku.
sungguh aku sangat tidak suka...
Aku merasa mulai enggan memikirkan orang lain. Aku mulai merasa bahwa apa yang kulakukan harus menghasilka sesuatu yang nyata, yang bermanfaat untuk diriku. Ini memang bukan diriku.

Selasa, Oktober 11, 2011

Kalau duduk sambil memeluk lutut seperti ini
Rasanya seperti berada di bibir pantai
Menatap ke depan melihat biru
Menatap ke atas melihat biru
Dan angin akan membelai mesra diriku...

Kalau duduk sambil diam seperti ini
Rasanya seperti kau ada di sampingku
Kau sedang menatapku yang seperti mengacuhkanmu
Padahal kulihat setiap gerikmu dari ekor mataku
Aku pun memperhatikanmu...

Selasa, Juli 19, 2011

Gemuruh Kawah Bromo: Mimpi yang Terwujud Sudah

Gunung Bromo dan Gunung Batok dari Matigen

Mimpi-mimpi itu. Ide-ide gila itu keluar lagi dari pikiranku dan keluar saja di ruang kecil bersekat itu. Rumah keduaku selama aku di kota perantauan ini. Keinginan untuk berpetualang masih begitu kental dalam pikiranku. Dan kalimat itu terlontar begitu saja. “Yuk, Backpackeran. Tujuan kita Bromo. Liburan semester ini, bulan Juli.”  Waktu itu beberapa penghuni sekre yang sedang asyik dengan pekerjaan mereka merespon dengan aneka rupa. Ada yang mengatakan kalau objek kejauhan, ada yang hanya tersenyum. Dan beberapa menjawab, “Ayuk, Mbak.” Dan mimpi itu, keinginan itu terealisasi pada 15-17 Juli kemarin.
Aku dengan 7 teman akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Bromo pada tanggal tersebut. Beberapa waktu sebelumnya aku mencari informasi lewat dunia maya. Itu karena semua yang akan berangkat belum memiliki pengalaman untuk pergi ke Bromo. Besarnya biaya, lokasi, akomodasi, dan situasi objek yang ingin kami tuju masih belum bisa kami prediksi. Karena itulah, informasi yang kami dapatkan pun masih cenderung separo-separo. Tapi semuanya tidak menyurutkan niat kami untuk melihat dan mengunjungi Bromo. Info pasti yang kami ketahui adalah bahwa Bromo sempat aktif dan menyemburkan debu vulkanisnya pada November tahun lalu. Sebagai ketua tim, aku berasumsi bahwa sekarang ini Bromo sudah berada pada kondisi yang lebih baik.
Aku, Desi, Mei, Septi, Tisna, Margi, Deni, dan Anjar. Kami berdelapan berangkat pada Jumat pagi. Kami naik kereta Sritanjung jurusan Banyuwangi. Di Stasiun Jebres kereta datang pukul 08.50. Selanjutnya, kami segera bertolak. Kereta meniupkan peluitnya dan asap hitam mengepul dari cerobong lokomotif di gerbong yang paling depan. Bismillah. Perjalanan pertama ini kami awali. Backpaker-an dengan modal nekat dan uang pas-pasan. Di dompetku sendiri hanya ada uang dua ratus ribu dengan beberapa uang ribuan saja. Berharap bahwa uang tersebut cukup untuk perjalananku kali ini.

Senin, Juli 11, 2011

Selamat Datang Mahasiswa Biasa di Kampus yang Biasa-Biasa Saja

Boulevard Kampus Hijau, Universitas
Sebelas Maret, Surakarta
Hari ini sama seperti pada empat tahun terakhir. Aku melihat rombongan pemuda memasuki kampus ini dengan beraneka mimpi yang mereka miliki. Dan pemandangan yang sama terlihat dari sisi yang lain. Lembaga dan organisasi kemahasiswaan di kampus ini mulai unjuk gigi untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Menunjukkan keunggulan yang dimiliki jika dibandingkan dengan organisasi yang lain. Misinya sama, menarik calon kader agar mereka masuk di masing-masing organisasi tersebut.
Menarik. Setiap organisasi membuat diri mereka menjadi begitu menarik untuk mahasiswa baru yang masih awam dengan dunia kampus. Di sinilah, organisasi kampus yang biasanya hilang dalam kancah pergerakan mahasiswa di kampus dapat terlihat menggeliat agar bisa mendapatkan ‘keturunan’ yang akan melanjutkan pergerakan mereka yang sudah kembang kempis. Tak apa! Yang demikian masih dihalalkan.

Senin, Mei 30, 2011

Taare Zameen Par: Every Child is Special

Aamir Khan dan Dharsheel Safary,,
senyum anak-anak begitu indah
Setiap anak memiliki keunikan. Mereka semua adalah sesuatu yang spesial. Kalian, kita hanya cukup melihat mereka lebih dekat. Lebih mengerti mereka, lebih memperhatikan mereka. Anak-anak adalah mutiara yang berkilauan dan menghiasi dunia ini. Mimpi-mimpi mereka adalah kekuatan yang akan membuat mereka tetap bersinar. Bakat yang mereka miliki adalah bekal untuk hidup mereka.
Demikian pesan pendek yang dimunculkan dalam sebuah film yang berjudul seperti judul tulisan ini, “Taare Zameen Par”. Film yang diproduksi oleh Aamir Khan, salah satu aktor gaek dalam film-film India, ini adalah salah satu film Bollywood yang membawa satu pencerahan dan hal baru bagi penikmatnya. Film ini bercerita tentang seorang anak, Ishaan, yang menderita disleksia. Sebuah penyakit yang bisa saja terjadi akibat keturunan. Penderita disleksia akan mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis karena mereka tidak memiliki kemampuan dasar untuk membedakan huruf yang satu dengan huruf yang lain yang cenderung mirip, misalnya ‘b’ dan ‘d’. Mereka yang menderita ini juga cenderung memasangkan huruf untuk membuat kata dalam urutan yang terbalik, misalnya, ‘sir’ ditulis ‘ris’.

Jumat, Mei 27, 2011

Merbabu, Perjuangan Menuju Puncakmu



Jumat-Sabtu kemarin (20-21 Mei 2011) aku kembali memulai perjalanan untuk mendaki puncak-puncak gunung itu. Kali ini Merbabu. Gunung yang sempat kudaki sebelumnya dengan teman-teman dari UNDIP pada 16-17 lalu. Waktu itu aku gagal mencapai puncaknya karena mengalami cedera di perjalanan sehingga terpaksa ‘ngecamp’ di bawah puncaknya. Karena itulah aku masih penasaran dan masih tertantang untuk menikmati angin di puncaknya. Melihat biru langit di atasnya. Alhamdulillah, kali ini aku dapat sampai di puncaknya, 3142 mdpl. Perjalanan kemarin dengan teman-teman di LPM Motivasi. Masih bersama mereka. Djoko, Sigit, Andi, Qodri, Miswan, Hanif, Jatmiko, Huda, Bambang, Imron, Tambak, Aish, Desi, dan Tyas.
            Sekitar pukul 16.30, teman-teman sudah berkumpul di sekretariat kami. Tetapi waktu itu aku masih duduk di kelas. Aku masih menjalani kuliah penelitian kuantitatif. Kalau mau jujur, pikiranku sebenarnya sudah tidak di kelas itu. Pikiranku sudah jauh melayang pada bagaimana perjalanan pendakian Merbabu kami nanti. Aku masih takut jika terjadi cedera lagi pada kakiku karena terhitung dari pendakian ke Merbabu yang terakhir, aku sudah jatuh sebanyak dua kali. Kecelakaan di Klaten dan terpeleset waktu pulang ke rumah.
            Tepat pukul 16.35 perkuliahan selesai dan aku segera menuju ke kos untuk berganti pakaian dan mengambil tas dan perlengkapan pendakianku. Teman-teman sudah menunggu di sana. Semuanya sudah berkumpul di sekre. Checking terakhir untuk barang-barang yang kami bawa pun dilakukan. Pukul 17. 48 semua selesai dan kami memulai perjalanan kami menuju basecamp di Desa Selo, Boyolali.
            Awalnya, perjalanan berjalan lancar saja sehingga mulai memasuki Boyolali kami kehilangan 2 pasang teman. Qodri, Miswan, Imron, dan Sigit tidak bersama kami. Saling menghubungi, akhirnya kami tahu kalau salah satu motor mengalami kerusakan hingga harus masuk bengkel dan menginap di sana. Qodri dan Miswan terpaksa harus naik bis untuk sampai di Selo. Tidak ada niat untuk kembali ke Solo dan tidak ikut serta dalam pendakian kali ini. Kami yang menunggu di Selo menunggu di depan masjid. Teman-teman juga melakukan sholat isya dan maghrib karena saa berangkat kami belum sempat sholat.

Kamis, Mei 05, 2011

Pengaruh Periode Aufklarung pada Tatanan Masyarakat Dunia

Pendahuluan
Aufklarung adalah suatu gerakan besar di Eropa pada abad ke-18 M yang memberi kedudukan dan kepercayaan luar biasa kepada akal budi manusia. Gerakan ini tumbuh sejalan dengan penemuan-penemuan besar di bidang ilmu pengetahuan alam di Italia, Jerman, Polandia, dan Inggris. Beberapa ilmuwan yang hadir dan meramaikan ilmu pengetahuan pada masa ini, antara lain Galileo, Kepler, Copernicus, dan Newton.
Pada masa aufklarung, falsafah rasionalisme menjamur di Perancis dan Belanda. Aliran ini menempatkan kedudukan akal begitu tinggi dalam mencapai kebenaran. Tokoh yang mencetuskan falsafah rasionalisme adalah Descartes dan Spinoza. Ungkapan terkenal yang keluar dari Descartes adalah Cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada). Pada tahap selanjutnya, berkembangnya ilmu-ilmu eksakta dan kedudukannya yang tinggi dalam masyarakat terpelajar juga disusul dengan berkembangnya paham-paham seperti empirisme di Inggris oleh John Locke, rasionalisme Kant, dan idealisme Hegel.
Periode aufklarung telah banyak membawa perubahan pola pikir manusia. Manusia mulai menggunakan akalnya untuk meneliti secara kritis segala yang ada dalam kehidupannya termasuk dalam kehidupan bernegara dengan segala aspek yang ada di dalamnya. Masa inilah yang kemudian membuat para tokoh yang kemudian terkenal sebagai pelopor sebuah aliran untuk mulai menyuarakan pendapatnya. Pendapat ini dapat berupa celaan dan kritikan tajam terhadap kinerja pemerintah yang otoriter dan ditator terhadap rakyatnya.
Selain itu, perjumpaan akal budi dengan pengalaman manusia (empiri) kemudian menghasilkan science yang maju. Menurut pandangan Aufklarung dengan penyebarluasan ilmu pengetahuan maka harkat dan martabat manusia akan semakin meningkat. Bagi mereka science merupakan sumber kebahagiaan pula. Lahirlah scientisme, yakni sebuah paham yang memandang science sebagai satu hal yang segalanya dalam mencapai kebenaran, kebaikan, dan keindahan.
Makalah pendek ini akan membahas tentang periode aufklarung, terutama di Prancis dan beberapa pengaruhnya dalam kehidupan manusia selanjutnya.

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PENGGALIAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL BUDAYA JAWA (Tembang Macapat sebagai Alternatif Bahan Ajar Penanaman Karakter)

ABSTRAK
Pendidikan karakter marak menjadi perbincangan di Indonesia pada beberapa tahun terakhir. Hal tersebut berkaitan dengan menurunnya moral dan nilai yang dialami oleh peserta didik dan lulusan sebagai output pendidikan Indonesia. Pada prinsipnya pendidikan karakter di Indonesia sudah dilakukan sejak zaman Ki Hajar Dewantara, tetapi kemudian tergerus dengan adanya nilai-nilai modern yang masuk dengan begitu derasnya, termasuk dalam bidang pendidikan di Indonesia. Karena itulah, pendidikan karakter sekarang ini masih dipandang sebagai wacana dan belum menjadi bagian yang terintegrasi dalam pendidikan formal, padahal pendidikan di Indonesia sudah memiliki mata pelajaran pancasila, kewarganegaraan, budi pekerti, dan sejenisnya.
Makalah ini membahas tentang pentingnya pendidikan karakter di Indonesia, terutama dalam menghadapi ide dan arus globalisasi. Indonesia membutuhkan lulusan-lulusan pendidikan yang tidak hanya kompeten namun juga berkarakter agar bangsa Indonesia tetap menunjukkan karakternya dalam kancah persaingan internasional. Salah satu yang dapat dilakukan dalam pendidikan karakter adalah penggalian nilai-nilai kearifan lokal. Salah satunya melalui tembang-tembang macapat yang telah terkenal memiliki pesan dan nilai kehidupan yang agung. Pengintegrasian nilai-nilai di dalamnya dalam pendidikan di Indonesia akan membuat anak didik memiliki karakter sekaligus menunjukkan kepribadian bangsa. Hal tersebut akan membuat keluaran pendidikan Indonesia memiliki kompetensi yang cukup, bukan hanya dalam kecerdasan kognitif, melainkan juga kecerdasan emosi. Guru sebagai pendidik dan pengajar memiliki peran penting dalam pelaksanaan pendidikan karakter tersebut.

Kata kunci: pendidikan karakter, tembang macapat, globalisasi.

Jumat, Maret 25, 2011

Analisis Kritis Novel Perempuan Berkalung Sorban: Sebuah Pendekatan Feminisme Sastra


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karya sastra sebagai salah satu produk sebuah kebudayaan dapat dikatakan sebagai cerminan dari masyarakat tempat karya sastra itu lahir. Sebuah penelitian yang membicarakan tentang maju tidaknya atau tinggi rendahnya sebuah kebudayaan tidak hanya ditilik dari karya-karya atau tulisan ilmiah yang dihasilkannya. Tetapi, penilaian tentang hal tersebut dapat juga dilakukan dengan melihat karya-karya sastra yang dihasilkan oleh masyarakat yang bersangkutan.
Kita tidak perlu harus terjun masuk ke dalam masyarakat untuk mengetahui kebudayaan suatu masyarakat. Penelitian dapat dilakukan dengan cara menggali karya-karya fiksi, seperti buku-buku sastra atau novel. Hal inilah yang membuat perkembangan sastra tidak bisa dipisahkan dengan pola kehidupan dan pola pikir masyarakatnya. Cara masyarakat untuk hidup dan bertingkah laku dalam kehidupan sosial mereka bisa sangat mempengaruhi seorang penulis dalam merefleksikan pemikirannya tentang suatu masalah yang kemudian bisa diwujudkan dalam suatu kreasi yang kemudian layak disebut sebagai suatu karya sastra. Dan hal yang serupa juga terjadi pada perkembangan sastra di Indonesia.
Dalam perkembangannya, Abidah Al Khalieqy merupakan satu nama yang menghiasi jejak sastra di tanah air. Lewat karyanya, Abidah melukis kisah wanita dengan aneka perlawanannya terhadap budaya patriarki yang menurutnya masih terasa kental di negeri ini. Karya perdana yang dibukukan pada 2001 mengambil judul Perempuan Berkalung Sorban. Novel ini dinilai sebagai bentuk perjuangan yang bisa dilakukan oleh seorang penulis wanita untuk meningkatkan kedudukan kaumnya.
Novel Perempuan Berkalung Sorban adalah sebuah novel yang berbingkai feminisme. Perspektif feminisme lebih mengarah pada karya sastra yang ditulis perempuan sekaligus menampilkan tokoh perempuan dengan berbagai masalahnya. Perspektif dimaksud tidak semata-mata memandang novel dari kacamata estetika, tetapi juga memfokuskan kajian pada makna dan hubungannya dengan realitas sosial dan budaya.
Novel Perempuan Berkalung Sorban memiliki kandungan ekspresi dan konsistensi fiksional untuk mengutuhkan kepribadian, kecerdasan, dan keyakinan tokoh perempuan di dalamnya. Pengutuhan itu bukan saja terbaca dari latar sosial tokohnya, Annisa, tetapi juga emansipasi pemikiran dan keberaniannya untuk melawan dominasi dan diskriminasi tokoh-tokoh antagonis yang bersifat patriarkis. Penggambaran posisi dan sikap tokoh perempuan tersebut juga mencerminkan adanya upaya untuk menanggapi dan mencari solusi terhadap masalah gender yang ditimbulkan oleh ketidakadilan sosial dan budaya di sekitar tokoh itu berada.
Inilah yang kemudian melatarbelakangi peneliti untuk mengkaji novel Perempuan Berkalung Surban dengan judul Analisis Kritis Novel Perempuan Berkalung Sorban: Sebuah Pendekatan Feminisme Sastra.

Wanita ini dan laki-laki itu

Suatu kali bercerita seorang laki-laki tentang wanita ini,
Dia, si wanita adalah gadis yang menjadi senjanya ….

“Dialah wanita itu,,
Yang mencintaiku dengan begitu sederhana,
Dia hanya tersenyum melihat nakalku,
Dia hanya akan nyengir sambil memegang dadanya,
Tepatnya di arah jantungnya, jika ia mengingat salahku …

Dia wanita itu,,
Yang selalu melakukan hal sama
Sehingga aku bisa cepat menghapal tingkahnya,,
Tapi aku selalu sulit menebaknya,,
Ketika kupikir seharusnya ia marah karena semua wanita biasanya marah,
Dia hanya tersenyum tenang dengan mata teduh yang ia tujukan padaku…
Terkadang sambil menggelengkan kepala pelan ke arahku yang telah berbuat salah …

Dia wanita itu,
Yang terkadang ingin sekali kulihat ia marah karena semua ulahku,
Tapi aku juga merasa takut jika ia benar marah padaku …
Apa jadinya jika wanita teduh itu benar begitu?

Kamis, Maret 24, 2011

Hidup,,, Adakah sebuah kebetulan?

Apakah kamu mengira bahwa hidup ini adalah sebuah kebetulan? Pertemuanku denganmu, pertemuanmu dengan mereka. Pertemuanku dengannya dan pertemuan antarkita yang saling bersinggungan? Kalau benar hidup ini adalah sebuah kebetulan. Bukankah ini adalah sebuah kebetulan yang indah dan begitu sempurna?
Dari pertemuanku denganmu, aku dapat mengenali dirimu sekaligus semakin mengerti diriku. Dari pertemuanku dengan dia dan mereka, aku mendapatkan pengalaman hidup yang luar biasa. Banyak kisah yang kemudian tercipta. Rangkaiannya membuat alur tidak lagi datar dan biasa-biasa saja. Ada masalah yang kemudian menuju klimaksnya dan diakhiri dengan penyelesaian yang tepat meski terkadang tidak sempurna dalam pandangan beberapa manusia. Klimaks dengan resolusi yang ditutup dengan akhir sedih atau gembira. Sad or happy ending.

Selasa, Maret 15, 2011

kegelisahanku yang masih saja datang

jenuh aku dengan diriku sendiri,,
pertanyaan tentang diriku,,jawaban untuk diriku.
lalu kemana dia dan mereka,,
apa sudah tidak ada ruang bagiku untuk memikirkan mereka,
seperti berada pada terali besi yang memasungku dalam keadaan tak bernyawa,,

ah,,aku hilang bentuk...
remuk,,
idealisme dan mimpi-mimpi besar itu masih kugadang dengan sangat baik,,
tapi seperti terbentur pada realitas yang ada,,

serpihan masih kukumpulkan dan berharap mimpi-mimpi besar itu mampu kuwujudkan,,
ini tentang kegelisahanku yang masih harus ketemukan jawaban .........

Jumat, Februari 18, 2011

Gedung Baru Itu lagi,, (...dan kali ini tentang nasib gedung lama...)

Sore ini aku ke kampus lagi. Belum banyak yang berubah. Sama seperti kebiasaanku, selalu saja ke kampus jika terlalu banyak pikiran tentang diri sendiri yang mengganggu dan meminta jawaban. Tidak pernah berharap bahwa dengan pergi ke kampus aku akan mendapatkan solusi atas masalah yang tengah dihadapi. Tetapi, justru sebaliknya aku ingin kembali dan melihat tempatku berkembang dulu. Mungkin dengan melihat jejak yang sedikit kubuat akan membuatku kuat. Bahwa aku pernah mengalami masa-masa tidak enak selama di kampus. Kampus menjadi satu tempat yang kupilih untuk mendapatkan pencerahan tentang hidup. Tentang hal-hal yang sering aku tanyakan untuk diriku sendiri, tentang jawaban yang kucari sendiri.
Sama seperti sore ini, menuju satu ruang kecil bersekat di kampusku. Ruang yang telah kutempati selama empat tahun terakhir saat ada di kampus. Satu ruang yang ada dalam bangunan kokoh bernama Gedung Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) FKIP UNS. Ruang kecil bersekat itu adalah LPM Motivasi. Aku selalu menyukainya, menganggapnya sebagai rumah pertamaku di kota perantauan ini. Terlalu berlebihan mungkin, tapi itu yang kurasakan selama tinggal di dalamnya. Ada keluarga, ada perdebatan, ada diskusi, ada tangis, ada gembira di sana. Ada bangga karena telah menjadi salah satu bagian darinya.
Dan sore ini berita yang kudengar dari adik-adik yang ada di sana sangat mengejutkanku. Bahwa gedung KBM yang telah menampug begitu banyak cerita perjuangan mahasiswa akan berubah fungsi menjadi kantin kampus. Pelaksanaannya akan melalui tahap tender dan sebagainya dan sebagainya. Pimpinan fakultas berdalih bahwa semua itu untuk kepentingan mahasiswa. Pun mahasiswalah yang akan mengurusi manajemen dan tetek bengeknya. (Perut mahasiswa mana yang akan dijadikan alasan untuk dipenuhi dengan makanan sedangkan kantin di kampus pun sudah tersebar di titik-titik tertentu? Itu pertanyaan pertama dariku). Apakah mahasiswa masih kurang sibuk sehingga harus mengurusi manajemen dan pengelolaan kantin kampus??? Itu pertanyaan selanjutnya yang keluar nakal dari pikiranku.

Jumat, Januari 14, 2011

Untuk Lelaki Kelanaku ......


kau adalah jingga,,
maka ketika kau tiada
tiada warna lagi bagi senja
....

semburatmu adalah kerinduan pada warna langit
yang biru,,
padanya aku memendam rasa ngelangutku yang menderu
....

bibir pantai ini masih saja sama,
dan aku masih menunggu seperti biasa,,

Sabtu, Januari 08, 2011

Jatuh Cinta, Lagi Kali ini ……….

Ini hanya sekadar catatan iseng saja ketika duduk di depan meja kerja dan otak sedang mampet untuk membuat naskah buku yang sedang kubuat. Tiba-tiba tangan ini ingin membuat sebuah tulisan pendek.
Beberapa minggu yang lalu, perasaan hatiku sedang tidak enak. Banyak pertanyaan yang membuatku gelisah. Pertanyaan yang begitu banyak tiba-tiba muncul dan membuat batinku berdebat sendiri. Tentang aku yang selama ini, tentang teman-temanku, tentang langkah yang telah kuambil dalam beberapa tahun terakhir, dan tentang yang lain-lain yang tiba-tiba menjadi pertanyaan dan bertarung mencari jawaban dalam pikiranku. Aku tidak tahu banyak, kenapa pertanyaan yang sedemikian banyak itu bisa muncul. Kutebak, mungkin karena beberapa buku yang selesai kubaca. Belakangan aku membaca beberapa buku yang ditulis orang-orang yang istimewa di zamannya. Apa karena itu? Atau karena aku tidak banyak melakukan hal yang lain selain bekerja dan beristirahat sehingga pikiranku sendirilah yang ingin mengajakku berdiskusi barang sejenak. Tapi, malah pikiranku itulah yang akhirnya membuatku menjadi “kerja tak enak, istirahat tak nyenyak”. Entahlah, sampai saat ini aku masih belum mendapat jawaban apa sebab kemunculan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku lumayan aneh itu…..