Pesan untukmu,,,

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Anak Semua Bangsa-Pramudya Ananta Toer)
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 03, 2012

Bergeraklah (karena aku suka dengan kata itu)


Tulisan ini mungkin sekali adalah bentuk kemarahan yang tidak bisa kusalurkan begitu saja hanya dengan berteriak atau mengumpat, atau bahkan hanya dengan menghancurkan sesuatu. Tulisan ini adalah bentuk kekecewaan yang menumpuk terus menerus dan lama-kelamaan menggunung. Kekecewaan yang menumpuk dalam hatiku sehingga tangan ini ingin sekali menumpahkannya. Kekecewaan terhadap almamaterku, terhadap kampus yang kukenal dan telah menempaku, yang telah memberiku gelar mahasiswa.

Rabu, April 18, 2012

Gadis Pantai dan Langit Biru


Bibir pantai ini masih sama. seperti belasan tahun yang lalu. Saat awal-awal aku mulai menikmatinya untuk mengenangmu. Mengingat setiap kluster waktu yang pernah terlewat dengan senyuman. Masa-masa terindah dalam usiaku yang menginjak 23. Bukan masa-masa SMA seperti sebuah lagu yang sering didendangkan. Tapi adalah masa ketika usiaku belum meninggalkan usia dalam ukuran satuan. Sebelum melepaskan usia 11. Waktu aku masih asyik bermain denganmu. Di pantai ini. Di laut ini.
Kurebahkan punggungku. Telentang menghadap langitku yang biru. Ah, biru. Aku selalu menyukai warna itu. Karena warna laut juga biru. Air laut yang menyentuh bibir pantai ini juga menyentuh punggungku. Menyentuh setiap bagian tubuhku. Seandainya aku bisa berenang, mungkin aku akan masuk ke dalam lautmu. Menyelam dan mengintip sebentar duniamu. Tapi aku tidak bisa dan memilih telentang di sini, di bibir pantaimu. Kugenggam sedikit pasir basah yang mengelilingi tubuhku. Andai, aku bisa menggenggam mimpiku itu seperti ini. Andai aku bisa menggenggam tanganmu seperti ini. Tapi, aku selalu tak bisa. Aku memilih untuk melepasmu. Selalu. Kupejamkan mata untuk merasai hadirmu. Itulah aku pada beberapa tahun lalu.
***

Kamis, Januari 26, 2012

Aku takut menjadi egois, Tuhan....


Rasanya sangat aneh..
belakangan ini aku mulai merasakan diriku semakin tenggelam dalam kebutuhanku sendiri. Ketakutan itu datang lagi ketika aku hanya memikirkan diriku sendiri. Kepentingan dan kebutuhan yang hanya akan dinikmati oleh rasaku sendiri. Ini seperti bukan diriku.
sungguh aku sangat tidak suka...
Aku merasa mulai enggan memikirkan orang lain. Aku mulai merasa bahwa apa yang kulakukan harus menghasilka sesuatu yang nyata, yang bermanfaat untuk diriku. Ini memang bukan diriku.

Selasa, Oktober 11, 2011

Kalau duduk sambil memeluk lutut seperti ini
Rasanya seperti berada di bibir pantai
Menatap ke depan melihat biru
Menatap ke atas melihat biru
Dan angin akan membelai mesra diriku...

Kalau duduk sambil diam seperti ini
Rasanya seperti kau ada di sampingku
Kau sedang menatapku yang seperti mengacuhkanmu
Padahal kulihat setiap gerikmu dari ekor mataku
Aku pun memperhatikanmu...

Selasa, Juli 19, 2011

Gemuruh Kawah Bromo: Mimpi yang Terwujud Sudah

Gunung Bromo dan Gunung Batok dari Matigen

Mimpi-mimpi itu. Ide-ide gila itu keluar lagi dari pikiranku dan keluar saja di ruang kecil bersekat itu. Rumah keduaku selama aku di kota perantauan ini. Keinginan untuk berpetualang masih begitu kental dalam pikiranku. Dan kalimat itu terlontar begitu saja. “Yuk, Backpackeran. Tujuan kita Bromo. Liburan semester ini, bulan Juli.”  Waktu itu beberapa penghuni sekre yang sedang asyik dengan pekerjaan mereka merespon dengan aneka rupa. Ada yang mengatakan kalau objek kejauhan, ada yang hanya tersenyum. Dan beberapa menjawab, “Ayuk, Mbak.” Dan mimpi itu, keinginan itu terealisasi pada 15-17 Juli kemarin.
Aku dengan 7 teman akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Bromo pada tanggal tersebut. Beberapa waktu sebelumnya aku mencari informasi lewat dunia maya. Itu karena semua yang akan berangkat belum memiliki pengalaman untuk pergi ke Bromo. Besarnya biaya, lokasi, akomodasi, dan situasi objek yang ingin kami tuju masih belum bisa kami prediksi. Karena itulah, informasi yang kami dapatkan pun masih cenderung separo-separo. Tapi semuanya tidak menyurutkan niat kami untuk melihat dan mengunjungi Bromo. Info pasti yang kami ketahui adalah bahwa Bromo sempat aktif dan menyemburkan debu vulkanisnya pada November tahun lalu. Sebagai ketua tim, aku berasumsi bahwa sekarang ini Bromo sudah berada pada kondisi yang lebih baik.
Aku, Desi, Mei, Septi, Tisna, Margi, Deni, dan Anjar. Kami berdelapan berangkat pada Jumat pagi. Kami naik kereta Sritanjung jurusan Banyuwangi. Di Stasiun Jebres kereta datang pukul 08.50. Selanjutnya, kami segera bertolak. Kereta meniupkan peluitnya dan asap hitam mengepul dari cerobong lokomotif di gerbong yang paling depan. Bismillah. Perjalanan pertama ini kami awali. Backpaker-an dengan modal nekat dan uang pas-pasan. Di dompetku sendiri hanya ada uang dua ratus ribu dengan beberapa uang ribuan saja. Berharap bahwa uang tersebut cukup untuk perjalananku kali ini.

Jumat, Mei 27, 2011

Merbabu, Perjuangan Menuju Puncakmu



Jumat-Sabtu kemarin (20-21 Mei 2011) aku kembali memulai perjalanan untuk mendaki puncak-puncak gunung itu. Kali ini Merbabu. Gunung yang sempat kudaki sebelumnya dengan teman-teman dari UNDIP pada 16-17 lalu. Waktu itu aku gagal mencapai puncaknya karena mengalami cedera di perjalanan sehingga terpaksa ‘ngecamp’ di bawah puncaknya. Karena itulah aku masih penasaran dan masih tertantang untuk menikmati angin di puncaknya. Melihat biru langit di atasnya. Alhamdulillah, kali ini aku dapat sampai di puncaknya, 3142 mdpl. Perjalanan kemarin dengan teman-teman di LPM Motivasi. Masih bersama mereka. Djoko, Sigit, Andi, Qodri, Miswan, Hanif, Jatmiko, Huda, Bambang, Imron, Tambak, Aish, Desi, dan Tyas.
            Sekitar pukul 16.30, teman-teman sudah berkumpul di sekretariat kami. Tetapi waktu itu aku masih duduk di kelas. Aku masih menjalani kuliah penelitian kuantitatif. Kalau mau jujur, pikiranku sebenarnya sudah tidak di kelas itu. Pikiranku sudah jauh melayang pada bagaimana perjalanan pendakian Merbabu kami nanti. Aku masih takut jika terjadi cedera lagi pada kakiku karena terhitung dari pendakian ke Merbabu yang terakhir, aku sudah jatuh sebanyak dua kali. Kecelakaan di Klaten dan terpeleset waktu pulang ke rumah.
            Tepat pukul 16.35 perkuliahan selesai dan aku segera menuju ke kos untuk berganti pakaian dan mengambil tas dan perlengkapan pendakianku. Teman-teman sudah menunggu di sana. Semuanya sudah berkumpul di sekre. Checking terakhir untuk barang-barang yang kami bawa pun dilakukan. Pukul 17. 48 semua selesai dan kami memulai perjalanan kami menuju basecamp di Desa Selo, Boyolali.
            Awalnya, perjalanan berjalan lancar saja sehingga mulai memasuki Boyolali kami kehilangan 2 pasang teman. Qodri, Miswan, Imron, dan Sigit tidak bersama kami. Saling menghubungi, akhirnya kami tahu kalau salah satu motor mengalami kerusakan hingga harus masuk bengkel dan menginap di sana. Qodri dan Miswan terpaksa harus naik bis untuk sampai di Selo. Tidak ada niat untuk kembali ke Solo dan tidak ikut serta dalam pendakian kali ini. Kami yang menunggu di Selo menunggu di depan masjid. Teman-teman juga melakukan sholat isya dan maghrib karena saa berangkat kami belum sempat sholat.

Jumat, Maret 25, 2011

Wanita ini dan laki-laki itu

Suatu kali bercerita seorang laki-laki tentang wanita ini,
Dia, si wanita adalah gadis yang menjadi senjanya ….

“Dialah wanita itu,,
Yang mencintaiku dengan begitu sederhana,
Dia hanya tersenyum melihat nakalku,
Dia hanya akan nyengir sambil memegang dadanya,
Tepatnya di arah jantungnya, jika ia mengingat salahku …

Dia wanita itu,,
Yang selalu melakukan hal sama
Sehingga aku bisa cepat menghapal tingkahnya,,
Tapi aku selalu sulit menebaknya,,
Ketika kupikir seharusnya ia marah karena semua wanita biasanya marah,
Dia hanya tersenyum tenang dengan mata teduh yang ia tujukan padaku…
Terkadang sambil menggelengkan kepala pelan ke arahku yang telah berbuat salah …

Dia wanita itu,
Yang terkadang ingin sekali kulihat ia marah karena semua ulahku,
Tapi aku juga merasa takut jika ia benar marah padaku …
Apa jadinya jika wanita teduh itu benar begitu?

Kamis, Maret 24, 2011

Hidup,,, Adakah sebuah kebetulan?

Apakah kamu mengira bahwa hidup ini adalah sebuah kebetulan? Pertemuanku denganmu, pertemuanmu dengan mereka. Pertemuanku dengannya dan pertemuan antarkita yang saling bersinggungan? Kalau benar hidup ini adalah sebuah kebetulan. Bukankah ini adalah sebuah kebetulan yang indah dan begitu sempurna?
Dari pertemuanku denganmu, aku dapat mengenali dirimu sekaligus semakin mengerti diriku. Dari pertemuanku dengan dia dan mereka, aku mendapatkan pengalaman hidup yang luar biasa. Banyak kisah yang kemudian tercipta. Rangkaiannya membuat alur tidak lagi datar dan biasa-biasa saja. Ada masalah yang kemudian menuju klimaksnya dan diakhiri dengan penyelesaian yang tepat meski terkadang tidak sempurna dalam pandangan beberapa manusia. Klimaks dengan resolusi yang ditutup dengan akhir sedih atau gembira. Sad or happy ending.

Selasa, Maret 15, 2011

kegelisahanku yang masih saja datang

jenuh aku dengan diriku sendiri,,
pertanyaan tentang diriku,,jawaban untuk diriku.
lalu kemana dia dan mereka,,
apa sudah tidak ada ruang bagiku untuk memikirkan mereka,
seperti berada pada terali besi yang memasungku dalam keadaan tak bernyawa,,

ah,,aku hilang bentuk...
remuk,,
idealisme dan mimpi-mimpi besar itu masih kugadang dengan sangat baik,,
tapi seperti terbentur pada realitas yang ada,,

serpihan masih kukumpulkan dan berharap mimpi-mimpi besar itu mampu kuwujudkan,,
ini tentang kegelisahanku yang masih harus ketemukan jawaban .........

Jumat, Februari 18, 2011

Gedung Baru Itu lagi,, (...dan kali ini tentang nasib gedung lama...)

Sore ini aku ke kampus lagi. Belum banyak yang berubah. Sama seperti kebiasaanku, selalu saja ke kampus jika terlalu banyak pikiran tentang diri sendiri yang mengganggu dan meminta jawaban. Tidak pernah berharap bahwa dengan pergi ke kampus aku akan mendapatkan solusi atas masalah yang tengah dihadapi. Tetapi, justru sebaliknya aku ingin kembali dan melihat tempatku berkembang dulu. Mungkin dengan melihat jejak yang sedikit kubuat akan membuatku kuat. Bahwa aku pernah mengalami masa-masa tidak enak selama di kampus. Kampus menjadi satu tempat yang kupilih untuk mendapatkan pencerahan tentang hidup. Tentang hal-hal yang sering aku tanyakan untuk diriku sendiri, tentang jawaban yang kucari sendiri.
Sama seperti sore ini, menuju satu ruang kecil bersekat di kampusku. Ruang yang telah kutempati selama empat tahun terakhir saat ada di kampus. Satu ruang yang ada dalam bangunan kokoh bernama Gedung Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) FKIP UNS. Ruang kecil bersekat itu adalah LPM Motivasi. Aku selalu menyukainya, menganggapnya sebagai rumah pertamaku di kota perantauan ini. Terlalu berlebihan mungkin, tapi itu yang kurasakan selama tinggal di dalamnya. Ada keluarga, ada perdebatan, ada diskusi, ada tangis, ada gembira di sana. Ada bangga karena telah menjadi salah satu bagian darinya.
Dan sore ini berita yang kudengar dari adik-adik yang ada di sana sangat mengejutkanku. Bahwa gedung KBM yang telah menampug begitu banyak cerita perjuangan mahasiswa akan berubah fungsi menjadi kantin kampus. Pelaksanaannya akan melalui tahap tender dan sebagainya dan sebagainya. Pimpinan fakultas berdalih bahwa semua itu untuk kepentingan mahasiswa. Pun mahasiswalah yang akan mengurusi manajemen dan tetek bengeknya. (Perut mahasiswa mana yang akan dijadikan alasan untuk dipenuhi dengan makanan sedangkan kantin di kampus pun sudah tersebar di titik-titik tertentu? Itu pertanyaan pertama dariku). Apakah mahasiswa masih kurang sibuk sehingga harus mengurusi manajemen dan pengelolaan kantin kampus??? Itu pertanyaan selanjutnya yang keluar nakal dari pikiranku.

Jumat, Januari 14, 2011

Untuk Lelaki Kelanaku ......


kau adalah jingga,,
maka ketika kau tiada
tiada warna lagi bagi senja
....

semburatmu adalah kerinduan pada warna langit
yang biru,,
padanya aku memendam rasa ngelangutku yang menderu
....

bibir pantai ini masih saja sama,
dan aku masih menunggu seperti biasa,,

Sabtu, Januari 08, 2011

Jatuh Cinta, Lagi Kali ini ……….

Ini hanya sekadar catatan iseng saja ketika duduk di depan meja kerja dan otak sedang mampet untuk membuat naskah buku yang sedang kubuat. Tiba-tiba tangan ini ingin membuat sebuah tulisan pendek.
Beberapa minggu yang lalu, perasaan hatiku sedang tidak enak. Banyak pertanyaan yang membuatku gelisah. Pertanyaan yang begitu banyak tiba-tiba muncul dan membuat batinku berdebat sendiri. Tentang aku yang selama ini, tentang teman-temanku, tentang langkah yang telah kuambil dalam beberapa tahun terakhir, dan tentang yang lain-lain yang tiba-tiba menjadi pertanyaan dan bertarung mencari jawaban dalam pikiranku. Aku tidak tahu banyak, kenapa pertanyaan yang sedemikian banyak itu bisa muncul. Kutebak, mungkin karena beberapa buku yang selesai kubaca. Belakangan aku membaca beberapa buku yang ditulis orang-orang yang istimewa di zamannya. Apa karena itu? Atau karena aku tidak banyak melakukan hal yang lain selain bekerja dan beristirahat sehingga pikiranku sendirilah yang ingin mengajakku berdiskusi barang sejenak. Tapi, malah pikiranku itulah yang akhirnya membuatku menjadi “kerja tak enak, istirahat tak nyenyak”. Entahlah, sampai saat ini aku masih belum mendapat jawaban apa sebab kemunculan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku lumayan aneh itu…..

Rabu, Januari 05, 2011

Dari Catatan Harian Ahmad Wahib


Setelah membaca buku kecil yang memiliki cover hijau tua dan berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam” itu ada beberapa kutipan yang kutemukan dan bisa teman-teman baca. Mungkin bisa dijadikan satu penyemangat untuk kita yang masih muda. Menyelami pikiran seorang anak muda yang ‘gelisah di zamannya. Atau kalau tidak, catatan pendek yang berisi beberapa kutipan ini bisa dijadikan sekadar bahan bacaan untuk teman-teman.

Sebagai catatan, Ahmad Wahib adalah salah satu mahasiswa Universitas Gadjah Mada (meski belum tercatat sebagai sarjana di sana) yang bergabung dalam satu pergerakan mahasiswa yang biasa kita sebut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sama seperti Soe Hok Gie, Wahib mati muda karena kecelakaan yang dialaminya. Dia meninggal karena tertabrak sepeda motor ketika pulang dari kantor majalah TEMPO, tempat ia bekerja sebagai calon wartawan. Wahib adalah pemuda yang gelisah dan memiliki banyak pertanyaan tentang Islam, tentang Himpunan yang dicintainya, tentang politik dan budaya, tentang mahasiswa dan kaum intelektual yang berada di menara gading. Catatan harian yang diterbitkannya menimbulkan kontroversi karena pada beberapa bagian, pemikirannya dianggap terlalu radikal karena ia sempat mempertanyakan Allah yang menjadi Tuhannya dan menjadikan Marx pantas masuk surga karena pemikirannya. Ada alasan-alasan yang menjadikan Wahib bertanya-tanya. Tidak perlu berpanjang lebar, karena ini hanya sekilas tentang Wahib. Berikut adalah beberapa kutipan yang kutemukan di dalam buku kecil yang baru selesai setelah beberapa hari ini kubaca:

“Sebagian orang meminta agar saya berpikir dalam batas-batas Tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi. Paakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? Saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan “adanya”. Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. Sesungguhnya orang yang mengakui bertuhan tetapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi, dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan yang tersembunyi.” (hal. 23)

“Tuhan, aku menghadap padamu bukan hanya di saat aku cinta padamu, tapi juga di saat-saat aku tidak cinta dan tidak mengerti tentang dirimu, di saat-saat aku seolah-olah memberontak terhadap kekuasaanmu. Dengan demikian, Rabbi, aku mengharap cintaku padamu akan pulih kembali. Aku tidak bisa menunggu cinta untuk sebuah sholat.” (hal. 27)

“Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan-Mu dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak yang Engkau sendiri telah berikan padaku dengan kemampuan-kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, murkakah Kau bila otak dengan kemampuan-kemampuan mengenalnya yang engkau berikan itu menggunakan sepenuh-penuhnya kemampuan itu?” (hal. 31)

Saya tidak mau jadi orang munafik, sok suci dan semacam itu. Percobaan menyembunyikan pengaruh bawah sadar yang mungkin ada? Adalah kepura-puraan. Dan saya tidak mau berpura-pura, apalagi terhadap sesama manusia seperti Ahmad dan lain-lainnya. Masalah hukum Tuhan saja saya tidak mau berpura-pura, apalagi terhadap masalah Himpunan Mahasiswa Islam.” (hal. 31)

“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan Budha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut Muslim. Aku ingin orang memandang dan menilaikusebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.” (hal. 46)

“Persamaan tidak akan menggugah apa-apa untuk pengembangan diri. Tapi pertentangan justru mempunyai saya rangsang yang tinggi untuk kematangan intelektual dan emosional. Karena itu, mumpung masih muda, kejar dan carilah lawanmu, berdebatlah. Dengan demikian, pribadi kita senantiasa kaan dihadapkan pada kesulitan-kesulitan intelektual dan justru karena kesulitan itulah kita dipaksa untuk maju, dipacu untuk maju. Semua ini jadi semacam peperangan, pemberontakan. Walaupun begitu, harus ada saat-saat di mana kita sempat berteduh dan beristirahat dan merenung atau berpikir sendiri ataupun bersama-sama untuk mengumpulkan dan mengadakan konsolidasi demi menghadapi pertempuran baru. Saat-saat muda yang penuh dengan idealisme dan vitalitas ini harus dipacu secepat-cepatnya untuk memperbanyak modal diri sebelum mengambil decision yang mantap pada umur yang lebih dewasa nanti.” (hal. 52-53)

“Apakah Muhammadiyah berhasil dalam usahanya memberantas apa yang disebut “bid’ah dan khurafat”? Saya kira dalam bidang “bid’ah dan khurafat” yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran NU, Muhammadiyah dapat dikatakan sudah berhasil. Tapi dalam menghadapi “bid’ah dan khurafat” yang “ditimbulkan” oleh kebudayaan Indonesia sendiri dan telah melembaga dalam adat istiadat rakyat, Muhammadiyah mengalami kesukaran. Muhammadiyah datang memberantas tanpa supremasi kebudayaan dan menyerang tanpa membawa kebudayaan baru yang “bersih”. Muhammadiyah cenderung untuk anti kebudayaan!” (hal. 64)

“Apakah ciri-ciri apologia?pertama, kalau merasa diserang, yang bersangkutan akan menangkis atau membela diri. Kedua, kalau merasa akan diserang yang bersangkutan akan bikin “excuse” lebih dulu. Ketiga, ada kecenderungan membangkit-bangkitkan kembali hal-hal yang lama. Keempat, tidak jarang mengagung-agungkan kejayaan masa lampau. Dan kelima, normatif.” (hal. 68)

“Yang penting bagi kita ialah berbuat dan bertanggung jawab. Kebenaran adalah sesuatu yang kita usahakan mendapati dan kesalahan adalah sesuatu yang kita usahakan menghindari. Dalam sikap demikian, maka kemungkinan melakukan kebenaran atau kesalahan adalah hirarkis di bawah pentingnya berbuat dan bertanggung jawab. Lebih baik berbuat, melakukan kesalahan dan bertanggung jawab daripada takut bertanggung jawab sebab selalu ragu tentang kebenaran tindak dan karenanya tak pernah berbuat apa-apa.” (hal. 117)

“Islam jangan dipandang sebagai bangunan emas yang megah yang bisa dipuja di mana kita mungkin hidup di dalamnya dengan berbuat atau tidak berbuat, tapi Islam bisa ada atau tidak ada tergantung pada ada atau tidak adanya kekerasan kerja dalam diri kita masing-masing untuk mengamalkan ajaran-ajaran spiritual Islam.” (hal. 120-121)

“Hari ini adalah hari Natal. Kepada saudara-saudaraku yang beragama Kristen ingin kusampaikan rasa ikut berbahagia dan simpatiku pada kesungguhan mereka menerima pesan Natal. Banyak kwan-kawan di kalangan Kristen dan Katolik yang tidak sempat kukirimi surat ucapan selamat. Surat itu bukan formalitas. Dia punya arti persahabatan dan pembinaan saling menghargai.” (hal. 192)

“Saya tidak mengerti mengapa orang-orang bersatu dalam organisasi karena persamaan daerah. Ada mahasiswa Kalimantan, Keluarga Madura, dan lain sebagainya. Ini mental primitif. Tapi saya yakin, suatu waktu ini akan hilang.” (hal. 197)

“Dengan umat Islam sendiri, kaum terpelajar muslim kurang komunikasi dan pikiran-pikiran mereka kurang dimengerti. Akibatnya, tetaplah keadaan umat Islam dalam keadaan tak terbimbing, tetapi menjadi klise masa lalu dan makin reaktif. Tak jarang terjadi, kaum terpelajar muslim lantas terbawa oleh “semangat” massa atau pendapat kaum awam. Golongan lain dengan gencar dikritik, tapi golongan sendiri tak diutik-utik.” (hal. 206)

“Saya pikir dalam keluarga harus tercipta iklim kasih sayang. Keluarga yang aman damai mendatangkan tabiat yang tenang pula bagi si anak. Rumah harus menjadi tempat di aman persatuan antaranggota keluarga dipelihara baik.” (hal. 218)

“Dalam keadaan sekarang yang dinamakan pejuang-pejuang idealis Islam barulah pejuang yang bersemangat tinggi, walaupun mereka tidak tahu apa yang mereka maui dengan semangat yang bernyala-nyala itu. Kebanyakan “pejuang-pejuang idealis Islam” menjadi terlalu emosional, kurang rasional. Mereka terpukau dengan simbol-simbol dan semacam itu.” (hal. 268)

“Saya memang mengeritik HMI sebagai orang yang terlibat dalam HMI. Seharusnya orang luar HMI akan lebih meneropong HMI, tapi sebagai orang dalam pun tak ada salahnya. Saya tulis semua ini karena cinta saya dan harapan saya terhadap himpunan ini.” (hal. 277)

“Terlalu banyak persentase waktu untuk membaca itu tidak baik. Kita hanya sekedar akan menjadi reservoir ilmu. Pemikiran otentik yang kita adakan maksimal hanya dalam kerangka kemungkinan-kemungkinan yang diberikan dalam suatu buku dan perbandingannya dengan buku sarjana-sarjana lain. Banyak membaca harus diimbangi dengan banyak merenung dan banyak observasi langsung. Harus ada keseimbangan antara membaca, merenung dan mengamati. Dengan demikianlah kita akan mampu membentuk pendapat sendiri dan tidak sekedar mengikut pendapat orang atau memilih salah satu di antara pendapat yang berbeda-beda.” (hal. 280)

“Bagaimana dunia mahasiswa Indonesia? Saya melihat telah terjadi krisis identitas, sehingga mereka tidak mampu menampilkan kepribadian tersendiri yang tangguh di tengah-tengah kemelut tanah airnya. Jiwa merdeka jauh dari mereka sehingga banyak organisasi-organisasi mahasiswa dan personil-personil mahasiswa sejak awalnya telah terbelit dalam jaringan partai politik, militer atau kekuasaan lain yang sedang memerintah. Kehidupan mahasiswa kemudian menjadi obyek atau daerah operasi yang tidak sehat dari kekuatan-kekuatan di luarnya dengan memakai tangan-tangan yang ada di dalam. “ (hal. 301)

“Aku ingin Al-Qur’an itu membentuk pola berpikirku. Aku tak tahu apakah selama ini aku sudah Islam atau belum. Tapi bagaimana mengintegrasikan Al-Qur’an itu dalam kepribadianku? Bagaimana? Tuhan, aku rindu akan kebenaranMu.” (hal. 320)

“Cinta itu kudus dan syahdu. Penderitaan dan kesulitan yang dia alami kurasakan sebagai penderitaan dan kesulitanku sendiri. Sayang, sukar sekali aku bisa bertemu dia. Kami tinggal pada kota yang lain, dan hanyalah tinta yang bisa jadi juru bicara. Baru dua hari kami berpisah, tapi aduh! Aku tidak tahan menahan kerinduan.” (hal. 324)

“Aku sudah terlalu lama di Yogya. Dia sudah terlalu kering buat suatu inspirasi. Bagiku kota ini tidak inspiratif lagi. Kapankah keinginanku untuk menjelajah dunia ini bisa terlaksana? Aku benci homogenitas dan suasana monoton. Aku ingin mencari lingkungan baru yang masih kaya akan inspirasi. Sebaiknya memang: tinggalkan Yogya!” (hal. 325)

“Aku sangat kuatir akan kemampuanku sendiri dalam menjaga keseimbangan batin di tengah-tengah kekecewaan terhadap nasibku selama ini, terhadap lingkunganku, terhadap teman-teman lamaku dan lain-lain. Mudah-mudahan aku tidak akan terdesak untuk mengambil langkah-langkah artifisial karena kecewa.” (hal. 341)


Catatan:
Beberapa tulisan dari kutipan ditulis tidak baku karena penulisannya merujuk pada buku yang asli. Semoga catatan pendek ini bermanfaat. Amien.

Rabu, Oktober 27, 2010

Untuk saudaraku di sana

rasanya ingin sekali berlari ke sana. tulisan pendek ini tidak lebih dari sekedar kata yang ingin kukataka kepada mereka tetapi jarak tidak memungkinkannya. rasanya ingin sekali berada di tengah-tengah mereka. mendengarkan cerita mereka atau sekedar menghapus air mata yang jatuh dan membasahi pipi mereka....

untuk saudaraku di sana,,.
lereng merapi, pulau mentawai, wasior, sikka, majene sulawesi, penduduk kampung ciledug, di mana saja di bagian negeri ini yang sdang tertimpa bencana. semoga Rabbi menguatkan kalian saudaraku...semoga Allah mengganti tangis kalian dengan kebahagiaan yang berlimpah. semoga Allah memberi kesabaran yang berlebih untuk dada kalian agar kalian kuat untuk menahan setia ujian yang diberikan oleh penguasa dunia ini.

ya Rabb, Tuhan kami....
kuatkankan saudaraku yang ada dalam titik-titik itu. jaga mereka agar selalu ingat menyebut asmaMu yang agung dan indah itu. berikan pula kemampuan kepada kami yang ada di sini untuk selalu menyukuri nikmatMu yang senantiasa berlebih mengalir kepada kami....

Rabbi,,,
mohon selalu temani kami,,
mohon dengan sangat....
mohon dengan sangat....
mohon dengan sangat.
Amin....

Selasa, Agustus 24, 2010

ingatku aku...

ingatkan aku,,
jika telah terlampau berlebih aku mencintaimu...

ingatkan aku,,
jika telah berlebihan aku memperhatikanmu,,,

beritahu saja aku,,
bahwa kau pun hanya makhluk biasa sepertiku...

ingatkan aku,,
bahwa suatu saat yang entah kau akan dan pasti pergi meninggalkanku...
dan untuk itu aku harus bersiap terlebih dahulu

....
dan untuk itu,,
aku harus sederhana saja dalam mencintamu....

Selasa, Juli 27, 2010

SEMBURAT CINTA FAJAR


“Maafkan Arini, Mas… Bukan maksud Arini untuk mengkhianati Mas. Tapi beginilah aku”.
Gadis itu terisak perlahan meski air mata tidak mengalir dari dua matanya. Kepalanya dari tadi menunduk tidak berani melihat orang yang menjadi lawan bicaranya. Sedangkan Fajar yang dari tadi diajak bicara pun hanya diam. Ada jarum-jarum yang seperti menahannya untuk menjawab atau sedikit mengomentari perkataan gadis yang ada di sampingnya.
Suasana hening dan hanya detak jam saja yang meriuhkan suasana.
“Dan ternyata bukan adek yang selama ini mas cari. Aku gagal lagi!”, suara Fajar memecah suasana di ruang tamu yang lumayan luas itu. Arini yang ada di sampingnya makin menundukkan kepalanya. Mungkin sekali ia menahan tangis agar tidak pecah. Dia sadari bahwa kali ini kesalahan memang telah dibuatnya. Membuat luka pada sebuah hati yang sempat ingin meminangnya.
“Mas memang kecewa dek, tapi akan lebih kecewa lagi jika mas tahu adek berbohong hanya untuk membahagiakan mas. Jadi, pengumuman yang sudah dibuat sejak sebulan lalu bahwa kita akan menikah harus segera dikonfirmasi ke teman-teman dan saudara. Untunglah undangan belum sempat dipesan untuk dicetak”, Fajar lancar melanjutkan potongan kalimatnya yang terpisah tadi. Tapi tidak begitu dengan hatinya. Hatinya remuk redam. Ini adalah kesekian kalinya cintanya tidak segera dapat ia labuhkan ke dalam mahligai pernikahan. Hubungan yang ia dambakan akan mampu menemaninya dalam hidup.
***
Fajar tidak bisa memejamkan matanya walau sebentar di dalam bis. Perjalanan ke kota Brebes kali ini menghabiskan tenaga dan pikirannya. Tadi pagi ia berangkat dengan semangat bahwa ia akan mampu memperbaiki hubungan antara dia dan Arini yang merenggang beberapa akhir ini. Tapi yang terjadi ternyata sebaliknya. Hubungan tidak hanya merenggang tapi ternyata meminta untuk diakhiri.
Ya, satu bulan yang lalu ia telah ‘nembung’ bapak ibu arini di rumah dan semuanya sepakat. Dalam waktu kurang dari dua bulan dia akan diijinkan untuk menyunting Arini. Membawa Arini ke rumahnya sebagai permaisuri. Menjadikannya sebagai wanita yang akan sangat dicintainya. Tapi selama masa penantian itu, satu minggu setelah peristiwa yang membahagiakannya hubungan antara mereka berdua merenggang. Arini sulit sekali dihubungi olehnya. Karena penasaran dan kekhawatiran yang ada di hatinya ia memberanikan diri untuk datang kembali ke kota Brebes, menemui wanita yang dicintainya.
Tapi sepertinya benang jodoh belum mampu menghubungkan mereka berdua. Seperti karang yang pecah karena ombak, begitulah hati Fajar. Tak pernah disangka bahwa hati Arini telah berubah. Satu minggu setelah Fajar datang ke rumahnya untuk kali yang pertama hadir seseorang dari masa lalu Arini. Dan pemuda inilah yang telah membuat hati Arini berubah. Ya, dan hati memang mudah sekali untuk dibolak-balik. Perkara ini bukannya tidak diketahui oleh orang tua Arini. Orang tua arini juga mengingatkan dengan statusnya sekarang. Tapi Arini memang lebih memilih pemuda dari masa lalunya itu. Meninggalkan pemuda lain bernama Fajar yang sudah memberikan satu harapan indah kepada keluarganya di rumah bahwa ia akan pulang dengan membawa kabar dari wanita yang diimpikannya.
Semuanya telah berubah. Dan ini untuk ke sekian kalinya. Ketika hatinya mulai tertambat pada seseorang harus dilepaskan lagi tali itu untuk berlayar mencari separo bagian yang akan melengkapkan hidupnya.
***
Pagi itu Fajar pergi dengan perasaan yang berbunga karena restu dari orang tua untuk meminang seorang perempuan yang akan menemani jiwanya akhirnya didapatinya. Sebelumnya, ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan restu itu. Simbah putri yang sangat dicintainya selalu menolak keinginan Fajar untuk segera menikah. Selalu saja hal yang sama disampaikan oleh perempuan berusia senja itu kepada Fajar.
“Kamu itu jangan menikah dulu, Tole! Adek-adekmu itu masih butuh bantuanmu untuk menyelesaikan sekolah mereka. Kalau kamu langsung menikah pasti konsentrasimu untuk keluarga ini terpecah…”. Selalu begitu yang dikatakan sang nenek ketika Fajar meminta restu darinya. Tapi pagi ini Fajar memberanikan diri untuk membicarakan hal yang sama lagi dengan neneknya sebelum Fajar memutuskan pergi dari rumahnya dan berangkat menuju kota gadis yang diimpikan untuk dipersuntingnya. Restu dari kedua orang tunya belum cukup membuat dia mantap sebelum restu dari simbah terkasih ada di genggam tangannya juga.
“Simbah, semalam Fajar sudah dapat restu dari Ibu-Bapak untuk pergi ke rumah Laras. Fajar ingin mengatakan keinginan Fajar untuk meminangnya, Mbah. Kali ini tidak hanya kepada Laras, tetapi juga kepada orang tuanya, keluarganya. Apa Simbah masih juga belum memberikan restu kepada Fajar untuk menikah?”, Fajar mengurai keinginannya panjang lebar dengan bahasa yang disusunnya dengan hati-hati. Dia takut Simbahnya tersinggung karena keinginannya yang selalu saja sama selama dua tahun terakhir ini. Ya, hubungan antara Fajar dan Laras memang sudah terjalin selama kurang lebih lima tahunan. Dua tahun terakhir keinginan Fajar untuk menyunting Laras telah bulat, tetapi selalu saja terhalang masalah yang timbul karena belum adanya restu atau hati Laras yang merasa kurang mantap.
Larasati nama gadis itu. Gadis sederhana berparas manis yang membuat hati Fajar tertambat padanya. Wajahnya yang manis membuat Fajar harus rela bersaing dengan beberapa pemuda yang lain untuk memperebutkan hati Laras. Sikapnya yang sederhana dan keibuan meskipun terkadang kekanak-kanakan membuat Fajar mencintainya. Cinta yang hebat karena ketika pertama kali mendapatkannya Fajar harus menyembuhkan terlebih dahulu luka di hati Laras. Luka yang pernah diberikan oleh pemuda sebelumnya yang pernah memasuki hati Laras.
Dan terbukti bahwa Fajar mampu menyembuhkan luka itu. Namun, Fajar dapat melihat bahwa Laras tidak pernah mencintainya seperti Fajar yang mencintainya. Yang Fajar ketahui adalah Laras belajar untuk mencintainya. Terkadang ia merasa jengah karena Laras seperti menganggap hubungan mereka seperti hubungan ewuh pekewuh. Laras hanya ingin membalas kebaikan Fajar terhadapnya. Tapi perasaan itu ditepisnya sendiri. Peribahasa trisno jalaran soko kulino masih diyakininya. Balasan untuk cintanya mungkin sekali akan didapatinya sepanjang berjalannya waktu.
Lamunan Fajar melambung tinggi pada gadis bernama Laras sehingga simbah putri yang ada di depannya seperti tak terlihat olehnya. Pandangan matanya kosong.
“Kamu benar-benar mencintainya, Tole??”, pertanyaan simbah membuyarkan lamunan Fajar. Meyakinkan bahwa ia masih di rumahnya sendiri.
“Eh… Apa Mbah? Iya, Mbah…Fajar sangat ingin menjadikan Laras sebagai menantu di rumah ini”, tergagap Fajar menjawabnya. Jiwanya yang tadi melayang dipaksakan sendiri olehnya untuk kembali dan menemui simbahnya terlebih dahulu.
“Baiklah kalau begitu, bawalah restu simbah bersamamu. Segeralah tembung si Laras situ sama orang tuanya. Simbah juga menyukainya, dia gadis yang baik. Semoga dia memang jodohmu, Le..”. Jawaban simbah membuat hati Fajar serasa diguyur air yang membuatnya sangat segar. Seperti menemukan oase di tengah sahara. Segera Fajar menciumi tangan simbah untuk menyatakan kegembiraannya.
“Matursuwun, Mbah. Insyaallah, semoga Laras memang jodoh Fajar”, senyum yang sangat ikhlas merekah di bibir Simbah yang memantul pada bibir Fajar. Kebahagiaan yang menyebar.
Setelah berpamitan dengan keluarga, Fajar mengambil motor dan memulai perjalanannya menuju kota Jepara. Kediaman Laras dan keluarganya. Senyum tersungging saja di bibirnya. Senyum yang seperti ingin ia bagi dengan orang-orang yang lalu lalang di jalan raya dengan aneka kebutuhan dan tujuan yang berbeda. Seperti ingin ia katakana pada dunia bahwa restu yang dimilikinya sekarang akan membuat ia mudah menyunting wanita yang diimpikannya, yang akan menggenapi hidup dan melengkapi dirinya.
***
“Semarang akhir… Semarang akhir…”, kondektur berteriak untuk memperingatkan para penumpang bahwa bus telah sampai di Terminal Terboyo. Fajar terkesiap, ternyata sepanjang perjalanan pulang dari kota kediaman Arini ia melamunkan sesuatu yang telah terjadi pada beberapa waktu lalu. Keadaan yang sama yang ia alami beberapa bulan sebelumnya ketika ia ingin menyunting Larasati, wanita impiannya sebelum Arini.
Larasati. Gadis impian itu yang telah mengisi hatinya selama empat tahun lebih. Tidak ada keinginan lain dari Fajar selain menyunting dan menjadikannya sebagai wanita yang akan menemani dalam sisa hidupnya. Tapi keinginan itu ternyata hanya berhenti sampai batas itu saja. Tuhan tidak membuat keputusan sesuai dengan yang telah direncanakan dan diinginkan Fajar. Keinginan Fajar akhirnya memang tersampaikan kepada keluarga Larasati dan keluarga Larasati juga menerimanya dengan senang hati atas keinginan tersebut. Tapi inilah hidup. Hanya Allah pemilik keputusan tertinggi di atas rencana manusia.
Larasati tidak dijadikan istri olehnya. Larasati yang memang tidak pernah dapat mencintai Fajar seperti Fajar yang mencintainya kemudian juga menerima pinangan dari pemuda yang baru dikenalnya. Bukan maksud hati Larasati juga bahwa ia akan lebih memilih pemuda yang baru dikenalnya itu. Tetapi semua tanda dan isyarat yang didapatinya bahkan setelah sholat istikharoh pun tidak ada yang mengarah pada Fajar. Semuanya mengarah pada pemuda tersebut. Pemuda asing yang baru dikenalnya dalam beberapa bulan saja. Namun, ia telah mampu memantapkan hati Larasati untuk menerima pinangannya. Pun dengan keluarga Larasati.
Sedih yang tak terkira dirasakan Fajar. Marah juga mungkin tertahan di hatinya kala itu. Tapi kemudian baru Fajar sadari bahwa cinta Larasati memang tidak pernah bisa tercipta untuknya meski Larasati telah berusaha untuk mencintainya. Fajar tahun usaha larasati untuk itu. Baru dia sadari juga bahwa skenario atas cintanya kepada Larasati yang telah digariskan Tuhan tidak semulus yang ia kira sebelumnya. Pikirnya, restu orang tua akan meluluskannya untuk pernikahan itu. Larasati ternyata harus melanjutkan skenario hidup selanjutnya bukan dengan Fajar. Begitu pula Fajar yang ternyata tidak bisa menggandeng Larasati untuk perjalanan di sisa usianya.
Akhirnya, memang tidak ada pilihan lain bagi Fajar selain mengikhlaskan yang terjadi. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Fajar tahu larasati tidak akan salah memilih dalam hal ini. Pemuda itu pun baik di mata Fajar. Pemuda sederhana yang juga begitu ramah padanya ketika mereka bertemu setelah pernikahan Larasati. Larasati pasti akan bahagia dengan pria itu.
Fajar tidak sepenuhnya kehilangan kebahagiaan itu. Keluarga Larasati sangat menyayanginya. Ia seperti memiliki keluarga kedua. Bapak Ibu Larasati sudah menganggapnya sebagai putra mereka sendiri. Adik-adik Larasati pun begitu. Sebuah persaudaraan yang indah sebagai ganti hubungan yang indah yang sempat menjadi mimpinya.
***
Hari-hari kemudian berlalu seperti biasa. Fajar dengan pekerjaannya yang menumpuk. Menjadi tangan kanan sang bos memang membuatnya memiliki kesibukan yang ekstra dibanding dengan pegawai yang lainnya. Hari Sabtu dan Minggu pun sering dihabiskannya di kantor. Fajar bekerja di salah satu perusahaan yang bergelut di bidang properti. Keuletannya dalam bekerjalah yang membuat ia mampu mendapatkan kepercayaan yang besar dari Pak Sigit, bos besarnya. Terkadang teman-teman sekantornya sering menggoda bahwa kedekatan Pak Sigit dengannya karena Pak Sigit menginginkan Fajar menjadi menantunya. Tapi hal tersebut selalu dijawab oleh Fajar.
“Dasar kalian ini!!! Bekerja sudah berapa tahun di sini? Mana mungkin Pak Sigit ingin menjadikanku sebagai menantunya, anak-anak Pak Sigit itu cowok semua, sudah berkeluarga pula?”
“Kalau mereka belum berkeluarga, apa kau mau, Jar?”, seloroh Candra, temannya yang paling suka menggoda Fajar.
“Mau kuapakan kau ini sebenarnya, bung?”, jawab Fajar sambil nyengir dan berniat memukul kepala Candra setelah akhirnya Candra mengelak dan pergi ke belakang, membuat kopi.
Status Fajar yang masih lajang di kantor selalu menjadi bahan lelucon teman-temannya. Hanya dia saja yang masih belum menikah dalam kantor itu. Terkadang, Fajar menanggapi lelucon itu dengan guyonan yang tidak kalah dengan yang dibuat teman-temannya. Tetapi, lebih sering ia hanya menjawab singkat untuk kemudian diam dan merenung sambil menatap layar komputer di depannya. Dengan begitu, teman-teman yang tadi menggodanya akan berhenti karena mengira ia sedang mengerjakan satu proyek yang harus segera diselesaikan.
Hatinya memang sepi. Sampai usianya yang ke dua puluh tujuh wajah gadis yang ingin dijadikan istri ternyata masih saja samar. Wajah-wajah gadis yang pernah hidup di hatinya harus segera di hapusnya agar hatinya dapat terisi dengan nama dan wajah gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Tapi, hal terebut masih saja menjadi sesuatu yang sulit baginya. Ketakutan akan kegagalan yang akan hadir terkadang menghantuinya ketika ia akan menjalin sebuah hubungan baru. Takut salah pilih, takut akan terulang hal yang sama setelah ia berniat meminang gadisnya. Ketakutan-ketakutan inilah yang ingin dilepaskan dulu dari pikirannya.
Satu hal yang sangat ia percaya adalah bahwa di suatu tempat entah di mana, ada seorang gadis yang juga menunggunya seperti ia yang ingin segera menemuinya tapi belum bisa. Skenario yang indah telah ada dan ia tinggal menjalaninya. Doa tidak putus baginya agar Sang Pencipta memendekkan waktu pertemuan antara ia dan gadisnya.
“Aku menyerahkan pada-Mu, Tuhan”. Selalu kalimat itu yang menjadi penutup doa Fajar ketika ia meminta pertemuannya dengan perempuan yang akan menjadi penyempurna setengah agamanya.


* untuk seorang kakak, semoga segera bertemu dengan ‘perempuan’mu…
Hehe,,sudah kehabisan alur cerita, jangan2 malah jadi novel. Jadi, untuk konflik selanjutnya masih menunggu masa ‘pengeraman’ ide cerita…^^v

Donna-Donna, Sita RSD Ost. Gie


On a waggon bound for market
there’s a calf with a mournful eye.
High above him there’s a swallow,
winging swiftly through the sky.
Reff:
How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summers night.
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.
Stop complaining!!! said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don’t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?
Repeat Reff
Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.

Jumat, Juli 23, 2010

23 Juli '10 pada 23.12


malam ini,,,
masih sama seperti malam-malam sebelumnya,,
aku masih menunggumu di depan rumah kita,
dengan baju hangat yang kau berikan sebagai kado hari pernikahan kita,,,
berapa tahun lalu,,
beberapa tahun yang mungkin telah membuat baju ini menjadi usang,,
tak lagi terlihat cantik,,
tapi aku semakin merasakan hangatnya,,
angin malam yang dingin tak lagi terasa di badan kecilku ini,,,

malam ini,
masih sama seperti malam-malam sebelumnya,,,
aku masih menunggumu sambil membuat catatan-catatan kecil...
tumpukan catatan itu telah mengisi lembaran buku bersampul merah marun itu,,
kamu tahu bukan?? Aku suka dengan warna itu...
kau dulu membelikannya,,,setumpuk sampul merah marun untuk setiap buku...
sekarang mereka berjajar rapi memenuhi rak di sudut kamar kita,,,

malam ini,
masih sama seperti malam-malam sebelumnya,,
si kecil tidur lebih dulu dan disusul kakaknya...
aku masih berdiri dan bersandar pada tiang rumah kita,,,
berharap kau datang dan memasuki pagar rumah kita...
berharap dapat kukecup tanganmu dan menyilakanmu masuk,,,
melihat si kecil yang terlelap tidur, melihat kakaknya yang sedang bermimpi indah....

malam ini,
masih sama seperti malam-malam sebelumnya...
aku masih saja belum mendapatkan kabar tentang kau yang pergi pada subuh buta itu,,,
laut tidak lagi membawa kabarmu padaku,,,
bahkan asin anginnya yang telah akrab denganku....
tangan ini masih merasai mesranya ketika mengusap peluh di dahimu,,

kangmas,,,
aku rindu.....


* setelah mengutak-atik jurnal ^^v

Rabu, Juni 16, 2010

seperti itu,,,,

seperti laut,,,ia mendamaikan
seperti angin,,,ia menyejukkan,
tapi kau adalah keduanya buatku.....

seperti gerimis yang syahdu,
ia membuatku larut...
seperti hujan,
ia membawa gemuruh
dan kau adalah keduanya bagiku....

kau adalah yang tak tergambar olehku....
kata-kataku tak mampu menjelaskanmu...

kau adalah tanda yang penuh isyarat buatku,
hingga harus mengeja ketika aku membacamu....

kau adalah dirimu,...
yang tersembunyi di balik dadamu....

hatimu,,,

Senin, Juni 14, 2010

Tentang sebuah yang menjadi tempat tinggal kita,,,

Yang pasti aku rindukan adalah kunang-kunang
Yang kerlipnya seperti bintang yang begitu dekat,,,
Hingga tangan ini ingin sekali merengkuh dan menyimpannya dalam genggaman,,

Yang pasti aku rindukan adalah bunga melati di depan sana,,
Yang wanginya selalu saja membuat hidung ingin mendekatinya
Dan mencoba bermain di bawahnya meski malam telah menjelang,,
Putihnya yang selalu indah di antara semak di depan rumah kita,,,

Yang pasti aku rindukan adalah bau hujan kala siang,,,
Atau gemericik derasnya air hujan yang jatuh menimpa atap rumah kita,,
Hingga kita berselimut hangat di bawahnya kala malam,,,

Yang pasti aku rindukan adalah aroma kopi tiap pagi,,,
Atau teh hangat buatan tangan kita masing-masing…
Dan makanan ringan ala kadar untuk menemaninya,,,
Sambil celotehan dan tawa ringan saat melihat televisi asyik bercerita,,

Yang pasti aku rindukan adalah deretan kursi di depan itu,,
Seperti singgasana tempat kita bercerita,,
Meski hanya sebentar saja,,,


Dan yang pasti aku rindukan adalah tawa kita,,
Canda kita yang menghiasi setiap sudut di sana,,,
Atau bahkan sedikit prasangka karena lemahnya hati kita,,,

Yang pasti kurindukan adalah semua cerita tentang kita,,,,



* untuk teman-teman di rumah kecil kita,,,
aku pasti akan sangat rindu...